Berikut Ini adalah resume RPS Mata Kuliah Penelitian Pendidikan :
Resume
Resume
Pertemuan 1 dan 2
A. Metode Ilmiah
Metode ilmiah atau proses ilmiah
merupakan proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis.
Ilmuwan melakukan pengamatan serta membentuk hipotesis dalam usahanya untuk menjelaskan fenomena alam. Prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis tersebut diuji
dengan melakukan eksperimen. Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali, hipotesis tersebut dapat
menjadi suatu teori ilmiah.
Unsur utama metode ilmiah adalah
pengulangan empat langkah berikut:
Bersifat kritis, analistis, artinya metode
menunjukkan adanya proses yang tepat untuk mengidentifikasi masalah
danmenentukan metode untuk pemecahan masalah.Bersifat logis, artinya dapat
memberikan argumentasi ilmiah. Kesimpulan yang dibuat secara rasional
berdasarkan bukti-bukti yang tersedia Bersifat obyektif, artinya dapat dicontoh
oleh ilmuwan lain dalam studi yang sama dengan kondisi yang sama pula. Bersifat
konseptual, artinya proses penelitian dijalankan dengan pengembangan konsep dan
teori agar hasilnya dapat dipertanggungjawabkan. Bersifat empiris, artinya
metode yang dipakai didasarkan pada fakta di lapangan. Langkah – Langkah Metode
Ilmiah
1. Menyusun Rumusan Masalah
2. Menyusun Kerangka Teori
3. Merumuskan Teori
4. Melakukan Eksperimen
5. Mengolah dan Menganalisis Data
6. Menarik Kesimpulan
7. Mempublikasikan Hasil
B. Hakikat Penelitian
Rasa ingin tahu merupakan salah satu sifat
dasar yang dimiliki manusia. Sifat tersebut akan mendorong manusia bertanya
untuk mendapatkan penge- tahuan. Setiap manusia yang berakal sehat sudah pasti
memiliki pengetahuan, baik berupa fakta, konsep, prinsip, maupun prosedur
tentang suatu obyek. Pengetahuan dapat dimiliki berkat adanya pengalaman atau
melalui interaksi antara manusia dengan lingkungannya. Secara universal,
terdapat tiga jenis pengetahuan yang selama ini mendasari kehidupan manusia
yaitu: (1) logika yang dapat membedakan antara benar dan salah; (2) etika yang dapat
membe- dakan antara baik dan buruk; serta (3) estetika yang dapat membedakan antara indah dan jelek. Kepekaan
indra yang dimiliki, merupakan modal
dasar dalam memperoleh pengetahuan tersebut.
Salah satu wujud pengetahuan yang dimiliki
manusia adalah pengetahuan ilmiah yang lazim dikatakan sebagai “ilmu”. Ilmu
adalah bagian pengetahuan, namun tidak semua pengetahuan dapat dikatakan ilmu.
Ilmu adalah pengetahuan yang didasari oleh dua teori kebenaran yaitu koherensi
dan korespondensi. Koherensi menyatakan bahwa sesuatu pernyataan dikatakan
benar jika pernyataan tersebut konsisten dengan pernyataan sebelumnya.
Koherensi dalam pengetahuan diperoleh melalui pendekatan logis atau berpikir
secara rasional. Korespondensi menyatakan bahwa suatu pernyataan dikatakan
benar jika pernyataan tersebut didasarkan atas fakta atau realita. Koherensi dalam pengetahuan
diperoleh melalui pendekatan empirik atau bertolak dari fakta. Dengan demikian,
kebenaran ilmu harus dapat dideskripsikan secara rasional dan dibuktikan secara empirik.
Koherensi dan korespondensi mendasari bagaimana
ilmu diperoleh telah melahirkan cara mendapatkan kebenaran ilmiah. Proses untuk
mendapatkan ilmu agar memiliki nilai kebenaran harus dilandasai oleh cara
berpikir yang rasional berdasarkan logika dan berpikir empiris berdasarkan
fakta. Salah satu cara untuk mendapatkan ilmu adalah melalui penelitian. Banyak definisi tentang
penelitian tergantung sudut pandang
masing-masing.
Penelitian
dapat didefinisikan sebagai upaya mencari jawaban yang benar atas suatu masalah berdasarkan logika dan
didukung oleh fakta empirik. Dapat pula dikatakan bahwa penelitian adalah
kegiatan yang dilakukan secara sistematis melalui proses pengumpulan data,
pengolah data, serta menarik kesimpulan berdasarkan data menggunakan metode dan
teknik tertentu.
Pengertian tersebut di atas menyiratkan bahwa
penelitian adalah langkah sistematis dalam upaya memecahkan masalah. Penelitian
merupakan penelaahan terkendali yang mengandung dua hal pokok yaitu logika
berpikir dan data atau informasi yang dikumpulkan secara empiris (Sudjana,
2001). Logika berpikir tampak dalam langkah-langkah sistematis mulai dari
pengumpulan, pengolahan, analisis, penafsiran dan pengujian data sampai
diperolehnya suatau kesimpulan. Informasi dikatakan empiris jika sumber data
mengambarkan fakta yang terjadi bukan sekedar pemikiran atau rekayasa peneliti. Penelitian menggabungkan
cara berpikir rasional yang didasari oleh logika/penalaran dan cara berpikir
empiris yang didasari oleh fakta/ realita.
Penelitian sebagai upaya untuk memperoleh
kebenaran harus didasari oleh proses berpikir ilmiah yang dituangka dalam metode ilmiah. Metode ilmiah adalah
kerangka landasan bagi terciptanya pengetahuan ilmiah. Penelitian yang
dilakukan menggunakan metode ilmiah mengandung dua unsur penting yakni
pengamatan (observation) dan
penalaran (reasoning). Metode ilmiah
didasari oleh pemikiran bahwa apabila suatu pernyataan ingin diterima sebagai
suatu kebenaran maka pernyataan tersebut harus dapat diverifikasi atau diuji
kebenarannya secara empirik (berdasarkan fakta).
Terdapat empat langkah pokok metode ilmiah yang
akan mendasari langkah-langkah penelitian yaitu:
1.
Merumuskan
masalah;
mengajukan pertanyaan untuk dicari jawabannya. Tanpa adanya masalah tidak akan
terjadi penelitian, karena penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah.
Rumusan masalah penelitian pada umumnya diajukan dalam bentuk pertanyaan..
2.
Mengajukan
hipotesis;
mengemukakan jawaban sementara (masih bersifat dugaan) atas pertanyaan yang
diajukan sebelumnya. Hipotesis
penelitian dapat diperoleh dengan mengkaji berbagai teori
berkaitan
dengan bidang ilmu yang dijadikan dasar dalam perumusan masalah. Peneliti
menelusuri berbagai konsep, prinsip, generalisasi dari sejumlah literatur,
jurnal dan sumber lain berkaitan dengan masalah yang diteliti. Kajian terhadap
teori merupakan dasar dalam merumuskan kerangka berpikir sehingga dapat diajukan
hipotesis sebagai alternatif jawaban atas masalah.
3.
Verifikasi
data; mengumpulkan
data secara empiris kemudian mengolah dan menganalisis data untuk menguji
kebenaran hipotesis. Jenis data yang diperlukan diarahkan oleh makna yang
tersirat dalam rumusan hipotesis. Data empiris yang diperlukan adalah data yang
dapat digunakan untuk menguji hipotesis. Dalam hal ini, peneliti harus
menentukan jenis data, dari mana data diperoleh, serta teknik untuk memperoleh
data. Data yang terkumpul diolah dan dianalisis dengan cara-cara tertentu yang
memenuhi kesahihan dan keterandalan sebagai bahan untuk menguji hipotesis.
4.
Menarik
kesimpulan; menentukan
jawaban-jawaban definitif atas setiap pertanyaan yang diajukan (menerima atau
menolak hipotesis). Hasil uji hipotesis adalah temuan penelitian atau hasil
penelitian. Temuan penelitian dibahas dan disintesiskan kemudian disimpulkan.
Kesimpulan merupakan adalah jawaban atas rumusan masalah penelitian yang
disusun dalam bentuk proposisi atau pernyataan yang telah teruji kebenarannya.
Dengan mengikuti langkah-langkah di atas,
penelitian ilmiah meru- pakan kegiatan yang dilaksanakan untuk mengkaji dan
memecahkan suatu masalah menggunakan prosedur sistematis berlandaskan data
empirik. Berdasarkan proses tersebut di atas, mulai dari langkah kajian teori
sampai pada perumusan hipotesis termasuk berpikir rasional atau berpikir
deduktif. Sedangkan dari verifikasi data sampai pada generalisasi merupakan
proses berpikir induktif. Proses tersebut adalah wujud dari proses berpikir ilmiah.
Itulah sebabnya penelitian dikatakan sebagai operasionalisasi metode ilmiah.
Untuk mendapatkan kebenaran ilmiah, penelitian
harus mengandung unsur keilmuan dalam aktivitasnya. Penelitian yang
dilaksanakan secara ilmiah berarti kegiatan penelitian didasarkan pada
karakeristik keilmuan yaitu:
1.
Rasional: penyelidikan ilmiah adalah sesuatu yang masuk akal dan
terjangkau oleh penalaran manusia.
2.
Empiris: menggunakan cara-cara tertentu yang dapat diamati orang
lain dengan menggunakan panca indera manusia.
3.
Sistematis: menggunakan proses dengan langkah-langkah tertentu yang
bersifat logis.
Penelitian
dikatakan tidak ilmiah jika tidak menggunakan penalaran logis, tetapi
menggunakan prinsip kebetulan, coba-coba, spekulasi. Cara-cara seperti ini tidak tepat digunakan untuk
pengembangan suatu profesi ataupun keilmuan tertentu. Suatu penelitian
dikatakan baik (dalam arti ilmiah) jika mengikuti cara-cara yang telah
ditentukan serta dilaksanakan dengan adanya unsur kesengajaan bukan secara kebetulan.
Dalam keseharian sering ditemukan konsep-konsep
yang kurang tepat dalam memaknai penelitian antara lain:
1. Penelitian
bukan sekedar kegiatan mengumpulkan data
atau informasi. Misalnya, seorang
kepala sekolah bermaksud mengadakan penelitian tentang latar belakang
pendidikan orang tua siswa di sekolahnya. Kepala sekolah tersebut belum dapat
dikatakan melakukan penelitian tetapi hanya sekedar mengumpulkan data atau
informasi saja. Pengumpulan data hanya merupakan salah satu bagian kegiatan
dari rangkaian proses penelitian. Langkah berikutnya yang harus dilakukan
kepala sekolah agar kegiatan tersebut menjadi penelitian adalah menganalisis
data. Data yang telah diperolehnya dapat digunakan misalnya untuk meneliti
pengaruh latar belakang pendidikan orang tua terhadap prestasi belajar siswa.
2. Penelitian
bukan hanya sekedar memindahkan fakta dari suatu tempat ke tempat lain.
Misalnya seorang pengawas telah berhasil mengum- pulkan banyak data/infromasi
tentang implementasi MBS di sekolah binaanya dan menyusunnya dalam sebuah
laporan. Kegiatan yang dilakukan pengawas tersebut bukanlah suatu penelitian.
Laporan yang dihasilkannya juga bukan laporan penelitian. Kegiatan dimaksud
akan menjadi suatu penelitian ketika pengawas yang bersangkutan mela- kukan
analisis data lebih lanjut sehingga diperoleh suatu kesimpulan. Misalnya: (1)
faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan imple- mentasi MBS; atau (2)
faktor-faktor penghambat implementasi MBS serta upaya mengatasinya.
B.
Metodologi
Penelitian
Metode penelitian berhubungan erat dengan
prosedur, teknik, alat, serta desain penelitian yang digunakan. Desain
penelitian harus cocok dengan pendekatan penelitian yang dipilih. Prosedur,
teknik, serta alat yang digunakan dalam penelitian harus cocok pula dengan
metode penelitian yang ditetapkan. Sebelum penelitian dilaksanakan, peneliti
perlu menjawab sekurang-kurangnya tiga pertanyaan pokok (Nazir, 1985) yaitu:
1.
Urutan kerja atau prosedur apa yang harus dilakukan dalam
melaksanakan suatu penelitian?
2.
Alat-alat (instrumen) apa yang akan digunakan dalam mengukur
ataupun dalam mengumpulkan data serta teknik apa yang akan digunakan dalam
menganalisis data?
3.
Bagaimana melaksanakan penelitian
tersebut?
Jawaban
atas ketiga pertanyaan tersebut memberikan kepada peneliti urutan- urutan
pekerjaan yang terus dilakukan dalam suatu penelitian. Hal ini sangat membantu
peneliti untuk mengendalikan kegiatan atau tahap-tahap kegiatan serta
mempermudah mengetahui kemajuan (proses) penelitian.
Metode penelitian menggambarkan rancangan
penelitian yang meliputi prosedur atau langkah-langkah yang harus ditempuh,
waktu penelitian, sumber data, serta dengan cara apa data tersebut diperoleh
dan diolah/dianalisis. Dalam prakteknya terdapat sejumlah metode yang biasa
digunakan untuk kepentingan penelitian. Berdasarkan sifat-sifat masalahnya,
Suryabrata (1983) mengemukakan sejumlah metode penelitian yaitu sebagai berikut
1.
Penelitian Historis yang bertujuan untuk membuat rekonstruksi masa
lampau secara sistematis dan obyektif.
2.
Penelitian Deskriptif yang yang bertujuan untuk membuat deskripsi
secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta dan sifat populasi atau daerah tertentu.
3.
Penelitian Perkembangan yang bertujuan untuk menyelidiki pola dan
urutan pertumbuhan dan/atau perubahan sebagai fungsi waktu.
4.
Penelitian Kasus/Lapangan yang bertujuan untuk mempelajari secara
intensif latar belakang keadaan sekarang dan interaksi lingkungan suatu obyek
5.
Penelitian Korelasional yang bertujuan untuk mengkaji tingkat
keterkaitan antara variasi suatu faktor dengan variasi faktor lain berdasarkan
koefisien korelasi
6.
Penelitian Eksperimental suguhan yang bertujuan untuk menyelidiki
kemungkinan hubungan sebab akibat dengan melakukan kontrol/kendali
7.
Penelitian Eksperimental semu yang bertujuan untuk mengkaji
kemungkinan hubungan sebab akibat dalam keadaan yang tidak memungkinkan ada
kontrol/kendali, tapi dapat diperoleh informasi pengganti bagi situasi dengan pengendalian
8.
Penelitian Kausal-komparatif yang bertujuan untuk menyelidiki
kemungkinan hubungan sebab-akibat, tapi tidak dengan jalan eksperimen tetapi
dilakukan dengan pengamatan terhadap data dari faktor yang diduga menjadi
penyebab, sebagai pembanding.
9.
Penelitian Tindakan yang bertujuan untuk mengembangkan keterampilan
baru atau pendekatan baru dan diterapkan langsung serta dikaji hasilnya.
McMillan dan Schumacher (2001) memberikan
pemahaman tentang metode penelitian dengan mengelompokkannya dalam dua tipe
utama yaitu kuantitatif dan kualitatif yang masing-masing terdiri atas beberapa
jenis metode sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut.
Tabel 4.1. Jenis-jenis Metode Penelitian
Kuantitatif
|
Kualitatif
|
||
Eksperimen
|
Non eksperimen
|
Interaktif
|
Non interaktif
|
True
eksperimen
|
Deskriptif
|
Etnografi
|
Analisis
konsep
|
Quasi
eksperimen
|
Komparatif
|
Fenomenologis
|
Analisis
sejarah
|
Subjek
tunggal
|
Korelasi
|
Studi
kasus
|
|
Survei
|
Teori
dasar
|
||
Ex post facto
|
Studi
kritis
|
||
Jenis-jenis penelitian lain dapat dibedakan
atas dasar beberapa sumber referensi berikut ini.
Tabel 4.2. Jenis-jenis Metode Penelitian
Menurut Berbagai Referensi
SUGIYONO (2007)
|
HADI
(1984)
|
Menurut Tujuan
|
Penelitian Menurut Tujuan
|
Penelitian
Dasar (Basic Research)
|
Penelitian
Eksploratif
|
Penelitian
Terapan (Applied Research)
|
Penelitian
Developmental
|
Menurut Metode
|
Penelitian
Verifikatif
|
Penelitian
Survei
|
Penelitian Menurut Bidang
|
Penelitian
Expost Facto
|
Penelitian
Pendidikan
|
Penelitian
Eksprimen
|
Penelitian
Pertanian
|
Penelitian
Naturalisme
|
Penelitian
Hukum
|
Penelitian
Kebijakan (Policy Research)
|
Penelitian
Ekonomi
|
Penelitian
Tindakan (Action Research)
|
Penelitian
Agama
|
Penelitian
Evaluasi
|
Penelitian Menurut Tempatnya
|
Penelitian
Sejarah
|
Penelitian
Laboratorium
|
Menurut Tingkat Eksplanasi
|
Penelitian
Perpustakaan
|
Penelitian
Deskriptif
|
Penelitian
Kancah
|
Penelitian
Komparatif
|
Penelitian Menurut Tarafnya
|
Penelitian
Asosiatif
|
Penelitian
Deskriptif
|
Menurut Jenis dan Analisis Data
|
Penelitian
Inferensial
|
Penelitian
Kualitatif
|
Penelitian Menurut Pendekatannya
|
Penelitian
Kuantitatif
|
Penelitian
Longitudinal
|
Penelitian
Cross Sectional
|
|
NAZIR (1999)
|
ARIKUNTO (2002)
|
Sejarah/Historis
|
Penelitian Menurut Tujuan
|
Penelitian
Sejarah Komparatif
|
Penelitian
Eksploratif
|
Penelitian
Yuridis atau Legal
|
Penelitian
Pengembangan
|
Penelitian
Biografis
|
Penelitian
Verifikatif
|
Penelitian
Bibliografis
|
Penelitian
Kebijakan
|
Metode Deskriptif
|
Penelitian Menurut Pendekatan
|
Survei
|
Penelitian
Longitudinal
|
Deskriptif
berkesinambungan
|
Penelitian
Cross Sectional
|
Studi
Kasus
|
Penelitian Berdasarkan Variabel
|
Analisis
Pekerjaan dan Aktivitas
|
Penelitian
Deskriptif
|
Penelitian
Tindakan (Action Research)
|
Eksprimen
|
Penelitian
Perpustakaan dan Dokumenter
|
Penelitian Kuantitatif
|
Metode Eksprimental
|
Penelitian
Non-Eksprimen
|
Eksprimen
Absolut
|
Penelitian
Eksprimen
|
Eksprimen
Perbandingan
|
Penelitian Kualitatif
|
Eksprimen
Sungguhan
|
Fenomenologis
|
Eksprimen
Semu
|
Interaksi
Simbolik
|
Grounded Research
|
Kebudayaan
|
Penelitian Expos Facto
|
Antropologi
|
Resume Pertemuan 3
PENDEKATAN FENOMENOLOGI
A.
Pengantar
Pendekatan
fenomenologi merupakan tradisi penelitian
kualitatif yang berakar pada filosofi dan psikologi, dan
berfokus pada pengalaman hidup manusia (sosiologi). Pendekatan fenomenologi
hampir serupa dengan pendekatan hermeneutics yang menggunakan pengalaman hidup sebagai alat untuk memahami secara lebih
baik tentang sosial budaya, politik atau konteks sejarah dimana pengalaman itu
terjadi. Penelitian ini akan berdiskusi tentang suatu objek kajian dangan
memahami inti pengalaman dari suatu fenomena. Peneliti akan mengkaji secara
mendalam isu sentral dari struktur utama suatu objek kajian dan selalu bertanya
"apa pengalaman utama yang akan dijelaskan informan tentang subjek kajian
penelitian". Peneliti
memulai kajiannya dengan ide filosofikal yang menggambarkan tema utama.
Translasi dilakukan dengan memasuki wawasan persepsi informan, melihat
bagaimana mereka melalui suatu pengalaman, kehidupan dan memperlihatkan
fenomena serta mencari makna dari pengalaman informan.
B.
Konsep Dasar
Peneliti dalam
pandangan fenomenologis
berusaha memahami arti peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap orang-orang
biasa dalam situasi-situasi tertentu. Sosiologi fenomenologis pada dasarnya
sangat dipengaruhi oleh pandangan Edmund Husserl dan Alfred Schultz. Pengaruh
lainnya berasal dari Weber yang memberi tekanan pada verstehn, yaitu pengertian
interpretatif terhadap pemahaman manusia. Fenomoenologi tidak berasumsi bahwa
peneliti mengetahui arti sesuatu bagi orang-orang yang sedang diteliti oleh
mereka.
Inkuiri fenomenologis
memulai dengan diam. Diam merupakan tindakan untuk mengungkap pengertian
sesuatu yang sedang diteliti. Yang ditekankan oleh kaum fenomenologis adalah
aspek subjektif dari perilaku orang. Mereka berusaha untuk masuk kedalam dunia
konseptual para subyek yang ditelitinya sedemikian rupa sehingga mereka
mengerti apa dan bagaiaman suatu pengertian yang dikembangkan oleh mereka di
sekitar peristiwa dalam kehidupannya sehari-hari. Para fenomenolog percaya
bahwa pada makhluk hidup tersedia pelbagai cara untuk menginterpretasikan
pengalaman melalui interaksi dengan orang lain, dan bahwa pengertian pengalaman
kitalah yang membentuk kenyataan.
C.
Konstruk penelitian
Ada pelbagai cabang
penelitian kualitatif, namun semua
berpendapat sama tentang tujuan pengertian subyek penelitian, yaitu melihatnya
dari “sudut pandang mereka”. Jika
ditelaah secara teliti, frase “dari segi pandang mereka” menjadi persoalan.
Persoalannya adalah “dari segi pandang mereka” bukanlah merupakan ekspresi yang
digunakan oleh subyek itu sendiri dan belum tentu mewakili cara mereka
berpikir. “Dari segi pandangan mereka” adalah cara peneliti menggunakannya
sebagai pendekatan dalam pekerjaannya. Jadi, “dari segi pandangan mereka”
merupakan konstruk penelitian. Melihat subyek dari segi ini hasilnya barangkali
akan memaksa subyek tersebut mengalami dunia yang asing baginya.
Sebenarnya
upaya mengganggu dunia subyek oleh peneliti bagaimanapun perlu dalam
penelitian. Jika tidak, peneliti akan membuat tafsiran dan harus mempunyai
kerangka konsep untuk menafsirkannya. Peneliti kualitatif percaya bahwa
mendekati orang dengan tujuan mencoba memahami pandangan mereka dapat
menghalangi pengalaman subyek. Bagi peneliti kualitatif terdapat perbedaan dalam
(1) Derajat mengatasi masalah metodologis/konseptual ini dan (2) cara
mengatasinya. Sebagian peneliti mencoba melakukan “deskripsi fenomenologis
murni”. Di pihak lain, peneliti lainnya kurang memperdulikan dan berusaha
membentuk abstraksi dengan jalan menafsirkan data berdasarkan “segi pandangan
mereka”. Apapun posisi seorang peneliti, yang jelas ia harus menyadari
persoalan teoretis dan isu metodologis ini.
D.
Orientasi Fenomenologis
Peneliti kualitatif
cenderung berorientasi
fenomenologis, namun sebagian besar
diantaranya tidak radikal, tetapi idealis pandangannya. Mereka memberi tekanan
pada segi subjektif, tetapi mereka tidak perlu menolak kenyataan adanya “di
tempat sana”, artinya mereka tidak perlu mendesak atau bertentangan dengan
pandangan orang yang mampu menolak tindakan itu. Sebagai gambaran diberikan
contoh, misalnya guru mungkin percaya bahwa ia mampu menembus dinding bata,
tetapi untuk mencapainya memerlukan pemikiran. Hakikatnya, batu itu keras
ditembus, namun guru itu tidak perlu merasakan bahwa ia tidak mampu berjalan
menembus dinding itu. Peneliti kulaitatif menekankan berpikir subyektif karena,
sebagai yang mereka lihat, dunia di dominasi oleh subyek yang kurang keras
dbandingkan dengan batu. Manusia kurang lebih sama dengan ‘mesin kecil’ yang
dapat melakukan sesuatu. Kita hidup dalam imajinasi kita, lebih banyak berlatar
simbolik daripada konkret.
E. Interaksi Simbolik
Bersamaan dengan perspektif
fenomenologis, pendekatan ini
berasumsi bahwa pengalaman manusia ditengahi oleh penafsiran. Objek, orang,
situasi, dan peristiwa tidak mempunyai pengertiannya sendiri, sebaliknya
pengertian itu diberikan untuk mereka. Misalnya seorang teknolog pendidikan
mungkin menentukan proyektor 16 mm sebagai alat yang akan digunakan ole guru
untuk memperlihatkan film-film yang relevan dengan tujuan pendidikan;
seorang guru barangkali menetapkan penggunaan proyektor tersebut sebagai alat
rekreasi untuk siswa apabila ia kehabisan bahan pelajaran sewaktu mengajar atau
apabila ia sudah letih. Pengertian yang diberikan orang pada pengalaman dan
proses penafsirannya adalah esensial serta menentukan dan bukan bersifat
kebetulan atau bersifat kurang penting terhadap pengalaman itu.
Untuk memahami
perilaku, kita harus mamahami definisi dan proses pendefinisiannya. Manusia
terikat secara aktif dalam menciptakan dunianya sehingga dengan demikian ia
mengerti akan pemisahan antara riwayat hidup dengan masyarakat yang merupakan
sesuatu yang essensial. Manusia tidak dapat bertindak atas dasar respon yang
telah ditentukan terlebih dahulu untuk mempradefinisikan obyek, tetapi lebih sebagai
penafsiran, pendefinisian, “hewan simbolik” yang perilakunya hanya dapat
dipahami dengan jalan peneliti memasuki proses definisi melalui metode seperti
pengamatan-berperan serta.
Penafsiran bukanlah
tindakan bebas dan bukan pula ditentukan oleh kekuatan manusia atau bukan.
Orang-orang menafsirkan sesuatu dengan bantuan orang lain seperti orang-orang
pada masa lalu, penulis, keluarga, pemeran di televisi, dan pribadi-pribadi
yang ditemuinya dalam latar temapt mereka bekerja atau bermain, namun orang lain
tidak melakukannya untuk mereka. Melalui interaksi seseorang membentuk
pengertian. Orang dalam situasi tertentu (misalnya mahasiswa dalam ruang kuliah
terrtentu) sering mengembangkan definisi bersama (atau “perspektif bersama”
dalam bahasa interaksi-simbolik) karena mereka secara teratur berhubungan dan
mengalami pengalaman bersama, masalah, dan latar belakang, tetapi kesepakatan
tidak merupakan keharusan. Di pihak lain, sebagian memgang “definisi bersama”
untuk menunjuk pada “kebenaran”, sautu pengertian yang senantiasa dapat
disepakati. Hal itu dapat dipengaruhi oleh orang yang melihat sesuatu dari sisi
yang lain. Bila bertindak atas dasar definisi tertentu, sesuatu barangkali
tidak akan baik bagi seseorang. Biasanya pada seseorang ada masalah, dan masalah
itu dapat membentuk definisi baru, dapat meniadakan yang lama, dengan kata lain
apat berubah. Bagaimana definisi itu berubah atau berkembang merupakan pokok
persoalan yang akan diteliti.
Sumber utama:
Moleong, Lexy J, Dr.
Metodologi Penelitian Kualitatif. 1993. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Resume
Pertemuan 4
Landasan Teori
Dalam
mengemukakan landasan teori, yang perlu diperhatikan adalah hal-hal sebagai
berikut:
1.
Pertama;
Menentukan tema
sejarah atau budaya apa, sejarah politik, sejarah ekonomi, sejarah sosial,
sejarah intelektual, budaya lokal, kesenian, upacara keagamaan dan lain-lain.
2.
Kedua;
Menentukan ilmu
bantu yang dibutuhkan untuk mendukung penelitian, seperti sosiologi,
antropologi, ilmu politik, ekonomi, dan sebagainya, sesuai dengan tema dan
topic penelitian. Ilmu-ilmu bantu kemudian menjadi pendekatan penelitian. Pendekatan
(approach),selain
bagian dari metodologi, juga merupakan
bagian dari metode, oleh karena itu dalam hal ini harus melihat cara apa
yang terdekat untuk menjelaskan topik yang dipilih. Hal ini juga harus sesuai
dengan kebutuhan dari tema dan topik penelitian. Apakah pendekatan politis,
ekonomis, sosiologis, arkeologis, psikologis, dan sebagainya.
3.
Ketiga;
Menjelaskan
konsep-konsep diperlukan untuk menjelaskan permasalahan penelitian. Konsep yang dipakai harus
dipahami. Biasakan diri untuk membuka
berbagai macam kamus, terutama yang sesuai untuk kebutuhan anda untuk
memahami konsep atau istilah tertentu, jangan membuat pengertian dengan pengertian kira-kira. Jika tiga hal ini sudah
ditemukan, tinggal menjelaskan sistematika berpikir dengan meminjam beberapa
paradigma atau konsep ilmu lain yang cocok untuk menjelaskan.
Selanjutnya
fokus teori menurut (Moleong,2002) yaitu teori substantif dan teori formal.
(Gleser dan Strauss dalam Maleong, 2002:37-38) mengemukakan Teori substantif
adalah teori yang dikembangkan untuk keperluan substantif atau empiris dalam
ingkuiri dalam suatu ilmu pengetahuan, misanya antropologi, sosiologi, dan
psikologi. Sedangkan teori formal adalah teori
untuk
keperluan formal atau yang disusun secara konseptual dalam bidang ingkuiri
suatu ilmu pengetahuan, misalnya sosiologi, contohnya prilaku agresif, organisasi formal,
sosialisasi. Semua penelitian bersifat ilmiah, oleh karena itu semua peneliti
harus berbekal teori. Dalam sebuah penelitian teori yang digunakan harus sudah
jelas karena fungsi teori dalam sebuah penelitian menurut (Sugiyono,2012:57)
adalah sebagai berikut:
a.
a.Teori digunakan untuk memperjelas
dan mempertajam ruang lingkup, atau konstruk variabel yang akan diteliti.
b.
b.Untuk merumuskan hipotesis dan
menyusun instrumen penelitian
c.
c.Memprediksi dan membantu menemukan
fakta tentang sesuatu hal yang hendak diteliti.
Secara
ringkas, menurut Borg dan Gall (1989: 114-119), dan Latief (2012: 43-50) dalam
Website Prof. Dr. Mudjia Raharjo,M.Si menjelaskan setidaknya ada enam (6)
alasan mengapa kajian pustaka / Teori harus dilakukan, sebagaimana uraian berikut: Sangat bermanfaat untuk menajamkan
rumusan masalah penelitian yang diajukan, sehingga besar kemungkinan rumusan
masalah yang sudah dibuat berubah
setelah peneliti membaca pustaka karena telah memiliki wawasan tentang tema
yang diteliti lebih luas daripada sebelumnya. Dengan demikian, rumusan masalah,
terutama dalam penelitian kualitatif, bersifat tentatif. Tidak sedikit penelitian gagal karena masalah yang diteliti
terlalu luas. Rumusan masalah yang spesifik dan dalam lingkup yang kecil jauh
lebih baik daripada yang luas dan umum. Umumnya, rumusan masalah yang tidak
jelas berakibat pada data yang diperoleh juga tidak jelas, sehingga antara
masalah yang hendak dijawab dan data yang ada tidak sambung. Ujungnya
kesimpulannya tidak berangkat dari data, tetapi pendapat pribadi peneliti.
Tentu ini tidak bisa dibenarkan. Hal demikian
bisa dihindari melalui kajian pustaka dengan serius.
.Kajian
pustaka tidak saja untuk mempelajari apa yang telah dilakukan orang lain,
tetapi juga melihat apa yang terlewatkan dan belum dikaji oleh peneliti
sebelumnya.Untuk melihat bahwa pendekatan penelitian yang kita lakukan steril
dari pendekatan-pendekatan lain. Sebab, pada umumnya kajian pustaka justru
menyebabkan peneliti meniru pendekatan-pendekatan yang sudah lama dipakai orang
lain, sehingga tidak menghasilkan temuan yang berarti. Mencoba pendekatan baru walau mungkin salah lebih
baik daripada mengulang hal yang sama berkali-kali walau benar. Pengulangan
justru menunjukkan peneliti tidak cukup melakukan pembacaan literatur secara
memadai. Kesalahan metodologis akan disusul dan dikoreksi oleh peneliti
selanjutnya, sehingga menyebabkan ilmu pengetahuan berkembang. Karena itu,
dalam ilmu pengetahuan kesalahan bukan
sesuatu yang aib. Proses demikian oleh Polanyi disebut sebagai falsifikasi.
.Memperoleh
pengetahuan (insights) mengenai metode, ukuran, subjek, dan pendekatan yang dipakai orang lain dan bisa
dipakai untuk memperbaiki rancangan penelitian yang kita lakukan. Rancangan
penelitian, lebih-lebih untuk penelitian
kualitatif, bukan sesuatu yang sekali jadi, melainkan terus diperbaiki agar diperoleh
metode yang tepat untuk memperoleh data dan menganalisisnya. Kenyataan di
lapangan ditemukan racangan penelitian kualitatif seragam dari satu proyek penelitian ke yang lain. Padahal,
walaupun berangkat dari paradigma yang sama rancangan penelitian kualitatif
bisa berbeda dari penelitian ke penelitian lainnya, karena penelitian
kualitatif berangkat dari kasus atau fenomena tertentu.
Melalui
kajian pustaka, bisa diperoleh pengetahuan berupa rekomendasi atau saran-saran
bagi peneliti selanjutnya. Informasi ini tentu sangat penting karena
rekomendasi atau saran merupakan rangkuman pendapat peneliti setelah melakukan
penelitian. Usai penelitian, kita juga diharapkan bisa memberikan rekomendasi
atau saran bagi peneliti selanjutnya, sebagaimana kita telah mengambil manfaat
dari peneliti sebelumnya. Karena itu, rekomendasi atau saran yang baik bukan
sembarang saran, melainkan usulan yang secara spesifik bisa diteliti.
Untuk
mengetahui siapa saja yang pernah meneliti bidang yang sama dengan yang akan
kita lakukan. Orang yang sudah lebih dahulu meneliti bisa dijadikan teman
diskusi mengenai tema yang kita lakukan, termasuk membahas hal-hal yang menjadi
kekurangan atau kelemahan penelitian, sehingga kita bisa memperbaiki, karena
dia telah memperoleh pengalaman lebih dahulu. Oleh karena itu untuk dapat
membuat sebuah landasan teori yang baik harus tahu banyak tentang metodologi. Jangan berharap
paham tentang landasan teori, apalagi untuk membuat sebuah landasan teori atau
kerangka penelitian yang baik, jika tidak tahu tentang metodologi.
Reume Pertmuan
5
VARIABEL
Istilah
variabel dapat diartikan bermacam – macam. Dalam tulisan ini variable diartikan
sebagai segala sesuatu yang akan menjadi objek pengamatan penelitian. Sering
pula dinyatakan variabeL penelitian itu sebagai faktor-faktor yang berperan
dalam peristiwa atau gejala yang akan diteliti.
Kalau
ada pertanyaan tentang apa yang akan di teliti, maka jawabannya berkenaan
dengan variabel penelitian. Jadi variabel penelitian pada dasarnya adalah
segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik
kesimpulan. Secara teoritis variabel dapat didefiisikan sebagai atribut
seseorang, atau objek yang mempunyai “Variasi” antara satu orang dengan yang
lain atau satu objek dengan objek yang lain (Hatch dan Farhady,1981). Dinamakan
variabel karena ada variasinya.
Menurut
Y.W Best yang disebut variabel penelitian adalah kondisi-kondisi atau
serenteristik-serenteristik yang oleh peneliti
dimanupulasikan, dikontrol atau dioservasi dalam suatu penelitian.
Sedang Direktorat Pendidikan Tinggii Depdikbud menjelaskan bahwa yang dimaksud
variabel penelitian adalah segala sesuatu yang akan menjadi objek pengamatan
penelitian. Dari kedua pengerian tersebut dapatlah dijelaskan bahwa variabel
penelitian itu meliputi faktor-faktor yang berperan dalam peristiwa atau gejala
yang kan diteliti.
Apa
yang merupakan variabel dalam sesuatu penelitian ditentikan oleh landasan teoritisnya,
dan ditegaskan oleh hipotesis penelitian. Karena itu apabila landasan
teoritisnya berbeda, variabel-variebel penelitiannya juga akan berbeda. Jumlah
variabel yang dijadikan objek pengamatan akan ditentukan oleh sofistikasi
rancangan penelitiannya. Makin sederhana sesuatu rancangan penelitian, akan
melibatkan variabel-variabel yang makin sedikit jumlahnya, dan sebaliknya.
KLASIFIKASI
VARIABEL
Variabel-variabel
yang telah diidentifikasikan perlu diklasifikasikan, sesuai dengan jenis dan
peranannya dalam penelitian. Klasifikasi ini sangat perlu untuk penentuan alat
pengambilan data apa yang akan digunakan dan metode analisis mana yang sesuai
untuk diterapkan.
Berkaitan
dengan proses kuantifikasi data biasa digolongkan menjadi 4 jenis yaitu (a).
Data Nominal, (b). Data Ordinal, (c). Data Interval dan, (d). Data ratio. Demikianlah pula variabel, kalau dilihat dari
segi ini biasa dibedakan dengan cara yang sama
1.
Variabel Nominal, yaitu variabel
yang ditetapkan berdasar atas proses penggolongan; variabel ini bersifat
diskret dan saling pilah (mutually exclusive) antara kategori yang satu dan
kategori yang lain; contoh: jenis kelamin, status perkawinan, jenis pekerjaan
2.
Variabel Ordinal, yaitu variabel
yang disusun berdasarkan atas jenjang dalam atribut tertentu. Jenjang tertinggi
biasa diberi angka 1, jenjang di bawahnya diberi angka 2, lalu di bawahnya di
beri angka 3 dan seterusnya. (ranking)
3.
Variabel Interval, yaitu variabel
yang dihasilkan dari pengukuran, yang di dalam pengukuran itu diasaumsikan
terdapat satuan (unit) pengukuran yang
sama. Contoh: variabel interval misalnya prestasi belajar, sikap
terhadap sesuatu program dinyatakan dalam skor, penghasilan dan sebagainya.
Variabel
ratio, adalah variabel yang dalam
kuantifikasinya mempunyai nol mutlak. (Drs. Sumadi Suryabrata .Metologi
Penelitian. hal. 26-27)
Menurut Fungsinya variabel dapat dibedakan :
a.
Variabel Tergantung (Dependent
Variabel) Yaitu kondisi atau karakteristik yang berubah atau muncul ketika
penelitian mengintroduksi, pengubah atau mengganti variabel bebas. Menurut
fungsinya variabel ini dipengaruhi oleh variabel lain, karenanya juga sering
disebut variabel yang dipengaruhi atau variabel terpengaruhi. Variabel ini
sering disebut sebagai variabel output, Kriteria, Konsekuen. Atau dalam bahasa
Indonesia sering disebut Variabel terikat. Dalam SEM (Structural Equation
Modeling) variabel dependen disebut variabel Indogen.*
b.
Variabel Bebas ( Independent
Variabel)
Adalah
kondisi-kondisi atau karakteristik-karakteristik yang oleh peneliti
dimanipulasi dalam rangka untuk
menerangkan hubungannya dengan fenomena yang diobservasi. Karena fungsi ini
sering disebut variabel pengaruh, sebab berfungsi mempengaruhi variabel lain,
jadi secara bebas berpengaruh terhadap variabel lain. Variabel ini juga sering
disebut sebgai variabel Stimulus,
Prediktor, antecendent. Dalam SEM(Structural Equation Modeling) variabel
independen disebut variabel eksogen.
c.
Variabel Intervening Variabel
intervenig adalah variabel yang secara teoritis mempengaruhi hubungan antara
variabel independen dengan Variabel dependen menjadi hubungan yang tidak
langsung dan tidak dapat diamati dan diukur. Variabel ini merupakan variabel
penyela/antara yang terletak di antara variabel independen dan dependen,
sehingga variabel independen tidak langsung mempengaruhi berubahnya atau
timbulnya variabel dependen.
d.
Variabel Intervening juga merupakan
variabel yang berfungsi menghubungkan variabel satu dengan variabel yang lain.
Hubungan itu dapat menyangkut sebab akibat atau hubungan pengaruh dan
terpengaruh.
e.
Variabel Moderator Dalam
mengidentifikasi variabel moderator dimaksud adalah variabel yang karena
fungsinya ikut mempengaruhi variabel tergantung serta meperjelas hubungan bebas
dengan variabel tergantung.
f.
Variabel kendali Yaitu yang membatasi
(sebagai kendali) atau mewarnai variabel mederator. Variabel ini berfungsi
sebagai kontrol terhadap variabel lain terutama berkaitan dengan variabel moderator jadi juga seperti variabel moderator dan bebas ia juga
ikut berpengaruh terhadap variabel tergantung
g.
Variabel Rambang Berlainan dengan
variabel bebas, yaitu fungsinya sangat diperhatikan dalam penelitian. Variabel
rambang yaitu variabel yang fungsinya dapat diabaikan atau pengaruhnya hampir
tidak diperhatikan terhadap variabel bebas maupun tergantung. (Drs.Colid
Narbuko,Drs.H Abu Achmadi.2004.Metode Penelitian. Jakarta:Bumi Aksara
Hal.119-120)
MERUMUSKAN
DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL-VARIABEL
Setelah
variabel – variabel diidetifikasikan dan diklasifikasikan, maka
variabel-variabel tersebut perlu didefinisikan secara operasional. Penyusunan
Definisi operasional ini perlu, karena definisi operasional itu akan menunjuk
alat pengambil data mana yang cocok digunakan. Definisi Operasional adalah
definisi yang didasarkan atas sifat-sifat hal yang didefinisikan yang dapa
diamati (diobservasi). Konsep dapat diamati atau diobservasi ini penting,
karena hal yang dapat diamati itu membuka kemungkinan bagi orang lain selain
peneliti untuk melakukan hal yang serupa, sehingga apa yang dilakukan oleh
peneliti terbuka untuk diuji kembali oleh orang lain.
Cara menyusun
definisi operasional dapat dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu
1.
1). Definisi Pola I, yaitu disusun
berdasarkan atas kegiatan-kegiatan (operations) yang harus dilakukan agar hal
yang didefinisikan itu terjadi. Contoh :
–
Frustasi adalah keadaan yang timbul
sebgai akibat tercegahnya pencapaian hal yang sangat diinginkan yang sudah
hampir tercapai.
–
Lapar adalah keadaan dalam individu
yang timbul setelah dia tidak makan selama 24
jam
–
Garam Dapur adalah hasil kombinasi
kimiawi antara natrium dan Clorida.
2.
Definisi Pola I ini, yang menekankan
Operasi atau manipulasi apa yang harus dilakukan untuk menghasilkan keadaan
atau hal yang didefinisikan, terutama berguna untuk mendefinisikan variabel
bebas.
3.
2). Definisi Pola II, yaitu definisi
yang disusun atas dasar bagaimana hal yang didefinisikan itu beroperasi. Contoh
:
–
Orang cerdas adalah orang yang
tinggi kemampuannya dalam memecahkan masalah, tinggi kemampuannya dalam
menggunakan bahasa dan bilangan.
–
Orang Lapar adalah orang yang mulai
menyantap makanan kurang dari satu menit setelah makanan dihidangkan, dan menghabiskannya dalam waktu kurang dari 10 menit.
4.
3). Definisi Pola III, yaitu
definisi yang dibuat berdasarkan atas bagaimana hal yang didefinisikan itu
nampaknnya. Contoh :
–
Mahasiswa yang cerdas adalah
mahasiswa yang mempunyai ingatan baik,
mempunyai perbendaharaan kata luas,
mempunyai kemampuan berpikir baik,
mempunyai kemampuan berhitung baik.
–
Ekstraversi adalah kecenderungan lebih suka ada dalam kelompok
daripada seorang diri.
5.
Seringkali dalam membuat definisi
operasional pola III ini peneliti menunjuk kepada alat yang digunakan untuk
mengambil datanya.
6.
Setelah definisi operasional
variabel-variabel peneliitian selesai dirumuskan, maka prediksi yang terkandung
dalam hipotesis telah dioperasionalkan. Jadi peneliti telah menyusun prediksi tentang kaitan
berbagai variabel penelitiannya itu secara operasional, dan siap diuji melalui
data empiris. (Drs. Sumadi Suryabrata .Metologi Penelitian. hal. 30-31)
MACAM-MACAM
HUBUNGAN ANTAR VARIABEL
Sesungguhnya
yang dikemukakan di dalam inti penelitian ilmiah adalah mencari hubungan antara berbagai variabel. Hubungan yang paling dasar adalah hubungan
antara dua variabel bebas dan variabel
terikat ( Independent variabel dengan dengan dependent variabel).
a.
.Hubungan Simetris
Variabel-variabel
dikatakan mempunyai hubungan simetris apabila variabel yang satu tidak
disebabkan atau dipengaruhi oleh variabel lainnya. Terdapat 4 kelompok hubungan
simetris :
o
Kedua variabel merupakan indikator
sebuah konsep yang sama.
o
Kedua variabel merupakan akibat daru
suatu faktor yang sama.
o
Kedua variabel saling berkaitan
secara fungsional, dimana yang satu berada yang lainnya pun pasti disana.
o
Hubungan yang bersifat kebetulan
semata-mata.
b.
Hubungan Timbal Balik
Hubungan timbal
balik adalah hubungan di mana suatu variabel dapat menjadi sebab dan akibat
dari variabel lainnya. Perlu diketahui bahwa hubungan timbal balik bukanlah
hubungan, dimana tidak dapat ditentukan
variabel yang menjadi sebab dan variabel
yang menjadi akibat.
c.
Hubungan Asimetris (tidak simetri)
Satu variabel
atau lebih mempengaruhi variabel yang lainnya. Ada enam tipe hubungan tidak
simetris, yakni :
1)
Hubungan antara stimulus dan
respons. Hubungan yang demikian itulah merupakan salah satu hubungan kausal
yang lazim dipergunakan oleh para ahli.
2)
Hubungan antara disposisi dan
respons. Disposisi adalah kecenderungan untuk menunjukkkan respons tertentu
dalam situasi tertentu. Bila “Stimulus” datangnya pengaruh dari luar dirinya,
sedangkan “Disposisi” berada dalam diri seseorang.
3)
Hubungan antara diri indiviidu dan
disposisi atau tingkah laku. Artinya ciri di
sini adalah sifat individu yag relatif tidak berubah dan tidak
dipengaruhi lingkungan.
4)
Hubungan antara prekondisi yang
perlu dengan akibat tertentu.
5)
Hubungan Imanen antara dua variabel.
6)
Hubungan antara tujuan (ends) dan
cara (means)
5.PENGUKURAN
VARIABEL
Pengukuran
adalah penting bagi setiap penelitian, karena dengan pengukuran itu penelitian
dapat menghubungkan konsep yang abstrak dengan realitas. Untuk dapat melakukan
pengukuran, maka seseorang peneliti harus bmemikirkan bagaimana ukuran yang
paling tepat untuk suatu konsep. Ukuran yang tepat akan memberikan kepada
penelii untuk merumuskan lebih tepat dan lebih cermat konsep penelitiannya.
Proses pengukuran mengandung 4 kegiatan pokok sebagai berikut :
a.
Menentukan indikator untuk dimensi –
dimensi variabel penelitian.
b.
Menentukan ukuran masing-masing
dimensi. Ukuran ini dapat berupa item (pertanyaan) yang relevan dengan dimensinya.
c.
Menentukan ukuran yang akan
digunakan dalam pengukuran, Apakah tingkat ukuran nominal, ordinal interval
atau ratio dan
d.
Menguji tingkat validitas dan
reliabilitas sebagai kriteria alat pengukuran yang baik.. Alat pengukur yang
baik, apabila alat pengukur itu dapat mengungkapkan realita itu dengan tepat.
Oleh karena itu dalam pengukuran gejala yang demikian itu yang dianut adalah
berdasarkan indikator-indikator konsep tersebut. Jadi kalau akan mengukur
intelegensi harus mencari apa yang menjadi indikator perbuatan yang intelegen
tersebut.
( Sumber : Drs.Colid Narbuko,Drs.H Abu
Achmadi.2004.Metode Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara Hal.131-139)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar