Berikut ini adalah Resume RPS Mata Kuliah Pembelajaran Bahasa Indonesia Bagi ABK dari pertemuan 1-15, dengan Dosen Pengampu mata kuliah yaitu Dr. Yuliati, M.Pd :
RESUME
Pertemuan 1
A.
Teori Belajar
Bahasa
Ditinjau
dari segi filosofis (keilmuan dan filsafat) ada beberapat teori dasar filsafat
yang dapat dijadikan prinsip pembelajaran bahasa. prinsip dasar tersebut
diuraikan sebagai berikut :
1.
Humanisme
Teori ini muncul diilhami oleh perkembangan dalam psikologi yaitu psikologi
Humanisme. Teori humanisme dalam pembelajaran bahasa pernah diimplementasikan
dalam sebuah kurikulum pembelajaran bahasa dengan istilah Humanistic curriculum
yang diterapkan di Amerika utara di akhir tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an.
Humanistic curiculum menekankan pada pola pikir, perasaan dan tingkah laku
siswa dengan menghubungkan materi yang diajarkan pada kebutuhan dasar dan
kebutuhan hidup siswa.
Tujuan utama dari teori
ini adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa agar bisa berkembang di tengah
masyarakat. Sementara tujuan teori humanisme menurut Coombs (1981) adalah
sebagai berikut.
a. Pembelajaran disusun berdasarkan kebutuhan-kebutuhan dan tujuan siswa.
b. Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengaktualisasikan dirinya dan untuk
menumbuhkan kepercayaan dirinya.
c. Pembelajaran disusun untuk memperoleh keterampilan dasar (akademik,
pribadi, antar pribadi, komunikasi, dan ekonomi) berdasarkan kebutuhan
masing-masing siswa.
d. Memilih dan memutuskan aktivitas pembelajaran secara individual dan mampu
menerapkannya.
e. Mengenal pentingnya perasaan manusia, nilai, dan persepsi.
f. Mengembangkan suasana belajar yang menantang dan bisa dimengerti.
g. Mengembangkan tanggung jawab siswa, mengembangkan sikap tulus, respek, dan
menghargai orang lain, dan terampil dalam menyelesaikan konflik.
2.
Nativisme
Chomsky merupakan
penganut nativisme. Menurutnya,
bahasa hanya dapat dikuasai oleh manusia, binatang tidak
mungkin dapat menguasai bahasa manusia. Pendapat Chomsky didasarkan pada
beberapa asumsi. Pertama, perilaku berbahasa adalah sesuatu yang
diturunkan (genetik), setiap bahasa memiliki pola perkembangan yang sama
(merupakan sesuatu yang universal), dan lingkungan memiliki peran kecil di
dalam proses pematangan bahasa. Kedua, bahasa dapat dikuasai dalam waktu yang
relatif singkat. Ketiga, lingkungan bahasa anak tidak dapat menyediakan data
yang cukup bagi penguasaan tata bahasa yang rumit dari orang dewasa. Menurut
aliran ini, bahasa adalah sesuatu yang kompleks dan rumit sehingga mustahil
dapat dikuasai dalam waktu yang singkat melalui “peniruan”. Nativisme juga
percaya bahwa setiap manusia yang lahir sudah dibekali dengan suatu alat untuk
memperoleh bahasa (language acquisition device, disingkat LAD) Salah
seorang penganut golongan ini Mc. Neil (Brown, 1980:22) mendeskripsika LAD itu
terdiri atas empat bakat bahasa, yakni:
a.
Kemampuan untuk membedakan bunyi bahasa dengan bunyi-bunyi yang lain.
b.
Kemampuan mengorganisasikan peristiwa bahasa ke dalam variasi yang
beragam.
c.
Pengetahuan adanya sistem bahasa tertentu yang mungkin dan sistem yang
lain yang tidak mungkin.
Kemampuan untuk mengevaluasi sistem perkembangan bahasa yang membentuk
sistem yang mungkin dengan cara yang paling sederhana dari data kebahasaan yang
diperoleh.
3.
Mentalisme
Teori mentalisme merupakan
kebalikan dari teori behaviorisme dimana teori ini lebih cenderung pada
pembahasan yang bersifat batiniah. Menurut N. Chomsky (dalam sumardi, 1992:97)
bahwa pemerolehan bahasa tidak dapat dicapai melalui pembentukan kebiasaan
karena bahasa terlalu sulit untuk dipelajari dengan cara semacam itu apalagi
dalam waktu yang singkat.
Sementara itu ada beberapa
pendapat kaum mentalis tentang pembelajaran dan pemerolehan bahasa yang dikutip
oleh Sapani (1998:14):
a.
Bahasa hanya dapat dikuasai oleh manusia
b.
Perilaku bahasa adalah suatu yang diturunkan
c.
Pemerolehan bahasa berlangsung secara alami
d.
Pola perkembangan bahasa sama pada berbagai macam bahasa dan budaya
e.
Setiap anak sudah dibekali dengan piranti penguasaan bahasa sebagai
bawaan dari lahir
f.
Aliran mentalis tidak setuju menyamakan proses belajar pada manusia
dengan yang terjadi pada binatang
g.
Belajar bahasa tidak sekedar latihan – l;atihan mekanistis melainkan
lebih kompleks
4.
Kognitivisme
Pada tahun 60-an golongan kognitivistik mencoba
mengusulkan pendekatan baru dalam studi pemerolehan bahasa. Pendekatan tersebut
mereka namakan pendekatan kognitif.Jika pendekatan kaum behavioristik bersifat
empiris maka pendekatan yang dianut golongan kognitivistik lebih bersifat
rasionalis. Konsep sentral dari pendekatan ini yakni kemampuan berbahasa
seseorang berasal dan diperoleh sebagai akibat dari kematangan kognitif sang
anak. Mereka beranggapan bahwa bahasa itu distrukturkan atau dikendalikan oleh
nalar manusia.
Menurut teori ini, bahasa bukanlah suatu ciri
alamiah yang terpisah, melainkan salah satu di antara beberapa kemampuan yang
berasal dari kematangan kognitif.Jadi, urutan-urutan perkembangan kognitif
menentukan urutan perkembangan bahasa (Chaer, 2003:223).
Menurut teori kognitivisme, yang paling utama
harus dicapai adalah perkembangan
kognitif, barulah pengetahuan dapat keluar dalam bentuk keterampilan berbahasa.
Konsep sentral teori kognitif adalah kemampuan
berbahasa anak berasal dari kematangan kognitifnya. Proses belajar bahasa
secara kognitif merupakan proses berpikir yang kompleks karena menyangkut
lapisan bahasa yang terdalam. Lapisan bahasa tersebut meliputi: ingatan,
persepsi, pikiran, makna, dan emosi yang saling berpengaruh pada struktur jiwa
manusia. Bahasa dipandang sebagai manifestasi dari perkembangan aspek kognitif
dan afektif yang menyatakan tentang dunia dan diri manusia itu sendiri.
5.
Humanisme
Teori ini muncul diilhami oleh
perkembangan dalam psikologi yaitu psikologi Humanisme. Teori humanisme dalam
pembelajaran bahasa pernah diimplementasikan dalam sebuah kurikulum
pembelajaran bahasa dengan istilah Humanistic curriculum yang diterapkan di
Amerika utara di akhir tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an. Humanistic
curiculum menekankan pada pola pikir, perasaan dan tingkah laku siswa dengan
menghubungkan materi yang diajarkan pada kebutuhan dasar dan kebutuhan hidup
siswa.
Tujuan utama dari teori ini adalah
untuk meningkatkan kemampuan siswa agar bisa berkembang di tengah masyarakat.
Sementara tujuan teori humanisme menurut Coombs (1981) adalah sebagai berikut.
a. Pembelajaran disusun berdasarkan kebutuhan-kebutuhan dan tujuan siswa.
b. Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengaktualisasikan dirinya dan untuk
menumbuhkan kepercayaan dirinya.
c. Pembelajaran disusun untuk memperoleh keterampilan dasar (akademik,
pribadi, antar pribadi, komunikasi, dan ekonomi) berdasarkan kebutuhan
masing-masing siswa.
d. Memilih dan memutuskan aktivitas pembelajaran secara individual dan mampu
menerapkannya.
e. Mengenal pentingnya perasaan manusia, nilai, dan persepsi.
f. Mengembangkan suasana belajar yang menantang dan bisa dimengerti.
g. Mengembangkan tanggung jawab siswa, mengembangkan sikap tulus, respek, dan
menghargai orang lain, dan terampil dalam menyelesaikan konflik.
6. Funsionalisme
Pandangan fungsionalisme dalam
kajian linguistic sering disebut tata bahasa sistemik,relasional, maupun tata
bahasa stratifikasi. Beberapa hal penting dari teori ini yang membedakan dengan
teori lain yaitu :
a.
Bahasa bukan sebagai
gejala psikologis tetapi fakta sosial yang secara implicit mengemban
penghayatan kehidupan sosial.
b.
Bahasa bukan terwujud
sebagai kalimat tetapi sebagai teks atau wacana
c.
Sebagai teks, bahasa
memiliki tiga tataran fungsi yang berhubungan secara sistematis yaitu fungsi
ideasional, interpersonal, dan tekstual.
d.
Siswa belajar berbahasa
secara serempak juga disertai kegiatan mengenal, menghayati dan memahami
kenyataan lain di luar fakta kebahasaannya.
e.
Pemahaman bahasa
bermula dari pemahaman penggunaannya
f.
Belajar bahasa
hakikatnya adalah belajar menggunakan bahasa sesuai dengan system dan kaidah
sosialnya.
7.
Konstruktivisme
Menurut pandangan teori ini (dalam Mulyasa, 2005:240) dalam kegiatan
belajar mengajar siswa harus aktif selama pembelajaran berlangsung; proses
aktif ini adalah proses membuat sesuatu masuk akal,pembelajaran tidak terjadi
melalui transmisi tetapi melalui interpretasi; interpretasi selalu dipengaruhi
oleh schemata( pengetahuan sebelumnya);interpretasi juga dibantu oleh metode
instruksi yang memungkinkan negoisasi pikiran; tanya jawab.
Implikasi dalam pandangan teori ini dalam pelajaran bahasa Indonesia
menurut Aminuddin (1996) yaitu.
a.
Perencanaan pengajaran harus dilandai pemahaman
karakteristik proses berpikir siswa dalam mengolah, menghayati dan
mengonseptualisasikan isi pembelajarannya.
b.
Proses pembelajaran bahasa Indonesia bukan
hanya ditujukan pada upaya pengembangan kemampuan berkomunikasi semata.
c.
Pengorganisasian materi dan kegiatan
pembelajaran, idealnya selain member peluang terjadinya pembelajaran secara
individual juga harus memberi peluangterjadinya proses pembelajaran secara
berkelompok
d.
Materi pelajaran yang secara formal disajikan
di sekolah bukan merupakan satu –satunya sumber isi pembelajaran.
Resume :
Pertemuan 2
A.
Pendekatan
Pembelajaran Bahasa Indonesia
Pendekatan
pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita
terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya
suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi,
menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan
teoretis tertentu.
1.
Pendekatan Kontekstual (Contextual/CTL)
Pendekatan
konstektual merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi
dunia nyata kedalam kelas dan mendorong siswa membuat membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai
anggota keluarga dan masyarakat. Hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna
bagi anak untuk memecahkan persoalan, berpikir kritis dan melaksanakan
observasi serta menarik kesimpulan dalam kehidupan jangka panjangnya. Dalam
konteks itu, siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam
status apa mereka dan bagaimana mencapainya.
2.
Konstruktivisme
Konstruktivisme
merupakan landasan berpikir (filosofi) pendekatan CTL, yaitu bahwa pengetahuan
dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasil-nya diperluas melalui
konteks yang terbatas, dan tidak serta merta. Pengetahuan bukanlah seperangkat
fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia
harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman
nyata. Esensi dari teori konstruktivis adalah ide bahwa siswa harus menemukan
dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain, dan apabila
dikehendaki informasi itu menjadi milik mereka sendiri. Dengan dasar itu,
pembelajaran harus dikemas menjadi proses mengkonstruksi bukan menerima
pengetahuan. Dalam proses pembelajaran, siswa membangun sendiri pengetahuan
mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar dan mengajar. Siswalah
yang
menjadi
pusat kegiatan, bukan guru.
3.
Pendekatan Terpadu dalam Pembelajaran Bahasa
Pendekatan
integratif atau pendekatan terpadu merupakan pendekatan pembelajaran bahasa
dengan cara berpikir menyeluruh, yang menghubungkan semua aspek keterampilan
berbahasa sebagai kesatuan yang bermakna (Routman, 1991:276). Selain itu,
Djiwandono (1996:10) mengataka bahwa pendekatan integrative merupakan
penggabungan dari bagian-bagian dan komponen-komponen bahasa, yang bersama-sama
membentuk bahasa. Dalam pembelajaran bahasa, materi pembelajaran bahasa
disajikan secara terpadu, yaitu terpadu antar-materi dalam pembelajaran bahasa
dan berpijak pada satu tema tertentu. Pendekatan integratif menurut Pappas
(1990) berlandaskan pada prinsip-prinsip
sebagai berikut:
a.
Siswa aktif dan merupakan pengajaran yang
bersifat konstruktif,
b.
Bahasa digunakan untuk bermacam-macam pola;
c.
Pengetahuan diorganisasikan dan dibentuk oleh
pembelajar secara individual melalui interaksi sosial.
4.
Whole language
Whole
language adalah satu pendekatan pengajaran bahasa yang menyajikan pengajaran
bahasa secara utuh, tidak terpisah - pisah (Edelsky, 1991; Froese, 1990;
Goodman, 1986; Weaver, 1992). Para ahli whole language berkeyakinan bahwa
bahasa merupakan satu kesatuan (whole) yang tidak dapat dipisah- pisahkan
(Rigg, 1991). Oleh karena itu pengajaran keterampilan berbahasa dan komponen bahasa seperti tata bahasa dan
kosakata disajikan secara utuh bermakna dan
dalam situasi nyata atau otentik. Pengajaran tentang penggunaan tanda
baca seperti koma, semikolon, dan kolon misalnya, diajarkan sehubungan dengan
pelajaran menulis. Jangan mengajarkan penggunaan tanda baca tersebut hanya
karena materi itu tertera dalam kurikulum
5.
Pendekatan Tematik
Pendekatan
tematik adalah suatu sistem pembelajaran yang menyatukan beberapa mata
pelajaran yang dikaitkan/berpusat pada satu pokok permasalahan (tema), sehingga
terjadi kepaduan antara yang satu dengan yang lain dan dapat memberikan
pengalaman belajar yang berarti bagi siswa. Pengalaman yang berarti tersebut
ditunjukan dengan mampunya siswa menghubungkan antara konsep-konsep belajar
yang telah dilakukannya dan dapat diwujudkannya/direalisasikan dalam kehidupan
sehari-hari, sehingga siwa tidak hanya menghafal materi pelajaran saja.
Pendekatan tematik menekankan pada pembelajaran yang mengajak siswa untuk
menemukan dan melakukan pengalaman belajaranya sendiri (learning by doing).
Pendekatan ini dimotori oleh Gestalt dan Piaget yang menekankan bawah
pembelajran haruslah bermakna dan sesuai dengan kebutuhan dan tingkat
perkembangan anak.
6.
Pendekatan Balance Literacy
Pendekatan
Balance Literacy merupakan konsep pembelajaran yang memadukan pendekatan phonic
dan whole language yang saling bertentangan untuk penerapan pembelajaran
terbaik dalam pengembangan kemampuan membaca dan menulis. Pendekatan phonic
menekankan pembelajaran pada ketepatan dan keakuratan dalam membaca kata. Anak
diperkenalkan dengan aturan-aturan fonetis dan fonemis atau cara mengeja dan
menuliskan huruf/kata (keterampilan analisis phonic). Siswa diajari memahami
hubungan antara huruf-bunyi pada kata, meliputi bunyi vokal, konsonan, diftong,
dan konsonan ganda. Misalnya anak perlu memahami ucapan bunyi vokal dan variasi
kata. Huruf e : berbunyi /e/ dalam kata sate, berbunyi / /
dalam kata benda, berbunyi /
/ pada kata enak. Huruf ng dibaca
/eng/, ny = /eny/. Huruf b pada kata bapak= /b/ diucapkan berbeda dengan huruf
b pada kata sabtu= /p/. Setelah siswa memahami hubungan bunyi-huruf tersebut
selanjutnya menerapkannya dalam kata/kalimat/teks yang dikenal. Tujuan
pendekatan ini adalah agar anak menyadari fonik melalui menghubungkan
bunyi-huruf dan dapat membunyikan huruf pada kata/ka-limat/teks yang
dihadapinya, menganalisis dan menggabungkannya secara tepat dan akurat.
Resume :
Pertemuan 3
A.
Hakikat
Bahasa
Manusia
adalah makhluk sosial, sehingga manusia perlu berinteraksi dengan manusia
lainnya. Pada saat manusia membutuhkan eksistensinya diakui, maka interaksi itu
terasa semakin penting. Kegiatan berinteraksi ini membutuhkan alat, sarana atau
media, yaitu bahasa. Sejak saat itulah bahasa menjadi alat, sarana atau media.
Tiada kemanusiaan tanpa bahasa, tiada peradaban tanpa bahasa tulis.
Ungkapan-ungkapan itu menunjukkan betapa pentingnya peranan bahasa bagi
perkembangan manusia dan kemanusiaan. Dengan bantuan bahasa, anak tumbuh dari
organisme biologis menjadi pribadi di dalam kelompok. Pribadi itu berpikir,
merasa, bersikap, berbuat, serta memandang dunia dan kehidupan seperti
masyarakat di sekitarnya.
1.
Bahasa
sebagai Sistem : Bahasa adalah sebuah sistem, artinya, bahasa itu dibentuk oleh
sejumlah komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan.
2.
Bahasa
Bersifat Arbitrer :Lambang bahasa itu bersifat arbitrer, artinya, hubungan
antara lambang dengan yang dilambangkan tidak bersifat wajib, bisa berubah ,
dan tidak dapat dijelaskan mengapa lambang tersebut mengonsepi makna tertentu.
3.
Bahasa
Bersifat Produktif : Bahasa itu bersifat produktif, artinya, dengan sejumlah
unsur yang terbatas, mamun dapat dibuat satuan-satuan ujaran yang hampir tidak
terbatas. Umpamanya, menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan W.J.S
Purwadarminta bahasa Indonesia hanya mempunyai lebih kurang 23.000 buah kata,
tetapi dengan 23.000 buah kata itu dapat dibuat jutaan kalimat yang tidak
terbatas.
4.
Bahasa
Bersifat Dinamis : Bahasa itu bersifat dinamis, artinya, bahasa itu tidak
terlepas dari berbagai kemungkinan perubahan yang sewaktu-waktu dapat terjadi.
Perubahan itu dapat terjadi pada tataran fonologis, morfologis, sintaksis,
semantik, dan leksikon. Yang tampak jelas biasanya adalah pada tataran
leksikon. Pada setiap waktu mungkin saja ada kosa kata baru yang muncul, tetapi
juga ada kosa kata lama yang tenggelam, tidak digunakan lagi.
5.
Bahasa
itu Beragam :Bahasa itu beragam artinya, meskipun sebuah bahasa mempunyai
kaidah atau pola tertentu yang sama, namun karena bahasa itu digunakan oleh
penutur yang heterogen yang mempunyai latar belakang sosial dan kebiasaan yang
berbeda, maka bahasa itu menjadi beragam. Bahasa Jawa yang digunakan di
Surabaya tidak persis sama dengan bahasa Jawa yan digunakan di Pekalongan,.
6.
Bahasa
Bersifat Manusiawi : Bahasa itu bersifat manusiawi artinya, bahasa sebagai alat
komunikasi verbal hanya dimiliki manusia. Hewan tidak mempunyai bahasa. Yang
dimiliki hewan sebagai alat komunikasi yang berupa bunyi atau gerak isyarat,
tidak bersifat produktif dan tidak dinamis. Dikuasai oleh para hewan itu secara
instingtif, atau secara naluriah. Padahal manusia dalam menguasai bahasa
bukanlah secara instingsif atau naluriah, melainkan dengan cara belajar. Hewan
tidak mempunyai kemampuan untuk mempelajari bahasa manusia. Oleh karena itulah
dikatakan bahwa bahasa itu bersifat manusiawi, hanya dimiliki manusia.
B.
Fungsi-Fungsi
Bahasa
Secara
umum sudah jelas bahwa fungsi bahasa adalah sebagai alat komunikasi. Bahasa
sebagai wahana komunikasi bagi manusia, baik komunikasi lisan maupun tulis.
Fungsi ini adalah dasar bahasa yang belum dikaitkan dengan status dan
nilai-nilai sosial. Dalam kehidupan sehari-hari, bahasa tidak dapat dilepaskan
dari kegiatan hidup masyarakat, yang di dalamnya sebenarnya terdapat status dan
niali-nilai sosial. Bahasa selalu mengikuti dan mewarnai kehidupan manusia
sehari-hari, baik manusia sebagai anggota suku maupun bangsa. Terkait hal itu,
Santoso, dkk. (2004) berpendapat bahwa bahasa sebagai alat komunikasi memiliki
fungsi sebagai berikut:
1.
Fungsi
informasi, yaitu untuk menyampaikan informasi timbal-balik antar anggota
keluarga ataupun anggota-anggota masyarakat.
2.
Fungsi
ekspresi diri, yaitu untuk menyalurkan perasaan, sikap, gagasan, emosi atau
tekanan-tekanan perasaan pembaca. Bahasa sebagai alat mengekspresikan diri ini
dapat menjadi media untuk menyatakan eksistensi (keberadaan) diri, membebaskan
diri dari tekanan emosi dan untuk menarik perhatian orang.
3.
Fungsi
adaptasi dan integrasi, yaitu untuk menyesuaikan dan membaurkan diri dengan
anggota masyarakat, melalui bahasa seorang anggota masyarakat sedikit demi
sedikit belajar adat istiadat, kebudayaan, pola hidup, perilaku, dan etika
masyarakatnya. Mereka menyesuaikan diri dengan semua ketentuan yang berlaku
dalam masyarakat melalui bahasa.
4.
Fungsi
kontrol sosial, bahasa berfungsi untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang
lain. Bila fungsi ini berlaku dengan baik, maka semua kegiatan sosial akan
berlangsung dengan baik pula. Dengan bahasa seseorang dapat mengembangkan
kepribadian dan nilai-nilai sosial kepada tingkat yang lebih berkualitas.
C. Prinsip-prinsip pembelajaran bahasa
1. Prinsip kontekstual : Pembelajaran yang mengaitkan materi yag diajarkan
dengan dunia nyata peserta didik dengan membuat hubungan yang dimilikinya
dengan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.
2. Prinsip integratif: Pembelajaran bahasa Indonesia disajikan tidak secara
terpisah-pisah melainkan secara terpadu.
3. Prinsip fungsional: Pembelajaran bahasa harus dikaitkan dengan fungsinya,
baik dalam berkomunikasi maupun dalam memenuhi keterampilan untuk hidup.
Pelaksanaan pembelajaran di kelas yang fungsional ini adalah dengan menggunakan
teknik bermain peran.
4. Prinsip apresiat : Prinsip apresiatif adalah prinsip pembelajaran yang
menyenangkan
Resume :
Pertemuan 4.
A. Pembelajaran bahasa dengan keterampilan
- Keterampilan menyimak (listening
skills)
Menyimak merupakan
salah satu jenis keterampilan berbahasa ragam lisan yang bersifat reseptif.
Dengan demikian, menyimak tidak sekadar kegiatan mendengarkan tetapi juga
memahaminya. Ada dua jenis situasi dalam menyimak, yaitu situasi menyimak
secara interaktif dan situasi menyimak secara noninteraktif. Menyimak secara
interaktif terjadi dalam percakapan tatap muka dan percakapan di telepon atau
yang sejenisnya. Dalam menyimak jenis ini, kita bergantian melakukan aktivitas
menyimak dan berbicara. Oleh karena itu, kita memiliki kesempatan untuk
bertanya guna memperoleh penjelasan, meminta lawan bicara mengulang apa yang
diucapkan olehnya atau mungkin memintanya berbicara agak lebih lambat.
Kemudian, contoh situasi-situasi mendengarkan noninteraktif, yaitu mendengarkan
radio, TV, film, khotbah, atau menyimak dalam acara-acara seremonial. Dalam
situasi menyimak noninteraktif tersebut, kita tidak dapat meminta penjelasan
dari pembicara, tidak bisa pembicara mengulangi apa yang diucapkan, dan tidak
bisa meminta pembicaraan diperlambat.
Berikut ini adalah keterampilan-keterampilan mikro yang terlibat ketika
kita berupaya untuk memahami apa yang kita dengar, yaitu pendengar harus mampu
menguasai beberapa hal berikut:
a. menyimpan/mengingat unsur bahasa yang didengar menggunakan daya ingat
jangka pendek (short-term memory);
b. berupaya membedakan bunyi-bunyi yang membedakan arti dalam bahasa
target;
c. menyadari adanya bentuk-bentuk tekanan dan nada, warna suara, intonasi,
dan adanya reduksi bentuk-bentuk kata;
d. membedakan dan memahami arti kata-kata yang didengar;
e. mengenal bentuk-bentuk kata khusus (typical word-order patterns);
f. mendeteksi kata-kata kunci yang mengidentifikasi topik dan gagasan;
g. menebak makna dari konteks;
h. mengenal kelas-kelas kata (grammatical word classes);
i.
menyadari
bentuk-bentuk dasar sintaksis;
j.
mengenal
perangkat-perangkat kohesif (recognize cohesive devices);
k. mendeteksi unsur-unsur kalimat seperti subjek, predikat, objek,
preposisi, dan unsur-unsur lainnya.
2. Keterampilan berbicara (speaking skills)
Berbicara merupakan
salah satu jenis keterampilan berbahasa ragam lisan yang bersifat produktif.
Sehubungan dengan keterampilan berbicara ada tiga jenis situasi berbicara,
yaitu interaktif, semiinteraktif, dan noninteraktif. Situasi-situasi berbicara
interaktif, misalnya percakapan secara tatap muka dan berbicara lewat telepon
yang memungkinkan adanya pergantian antara berbicara dan menyimak, dan juga
memungkinkan kita meminta klarifikasi, pengulangan atau kita dapat meminta lawan
bicara memperlambat tempo bicara dari lawan bicara. Kemudian, ada pula situasi
berbicara yang semiinteraktif, misalnya alam berpidato di hadapan umum secara
langsung. Dalam situasi ini, audiens memang tidak dapat melakukan interupsi
terhadap pembicaraan, namun pembicara dapat melihat reaksi pendengar dari
ekspresi wajah dan bahasa tubuh mereka. Beberapa situasi berbicara dapat
dikatakan betul-betul bersifat noninteraktif, misalnya berpidato melalui radio
atau televisi. Berikut ini beberapa keterampilan mikro yang harus dimiliki
dalam berbicara. Seorang pembicara harus dapat:
a. mengucapkan bunyi-bunyi yang berbeda secara jelas sehingga pendengar
dapat membedakannya;
b. menggunakan tekanan dan nada serta intonasi yang jelas dan tepat
sehingga pendengar dapat memahami apa yang diucapkan pembicara;
c. menggunakan bentuk-bentuk kata, urutan kata, serta pilihan kata yang
tepat;
d. menggunakan register atau ragam bahasa yang sesuai terhadap situasi
komunikasi, termasuk sesuai ditinjau dari hubungan antara pembicara dan pendengar;
e. berupaya agar kalimat-kalimat utama (the main sentence constituents)
jelas bagi pendengar;
f. berupaya mengemukakan ide-ide atau informasi tambahan guna menjelaskan
ide-ide utama;
g. berupaya agar wacana berpautan secara selaras sehingga pendengar mudah
mengikuti pembicaraan.
3. Keterampilan membaca (reading
skills)
Membaca merupakan salah
satu jenis keterampilan berbahasa ragam tulis yang bersifat reseptif.
Keterampilan membaca dapat dikembangkan secara tersendiri, terpisah dari
keterampilan menyimak dan berbicara. Tetapi, pada masyarakat yang memiliki
tradisi literasi yang telah berkembang, sering kali keterampilan membaca
dikembangkan secara terintegrasi dengan keterampilan menyimak dan berbicara.
Keterampilan-keterampilan mikro yang terkait dengan proses membaca yang harus
dimiliki pembaca adalah:
a. mengenal sistem tulisan yang digunakan;
b. mengenal kosakata;
c. menentukan kata-kata kunci yang mengidentifikasikan topik dan gagasan
utama;
d. menentukan makna-makna kata, termasuk kosakata split, dari konteks
tertulis;
e. mengenal kelas kata gramatikal: kata benda, kata sifat, dan sebagainya;
f. menentukan konstituen-konstituen dalam kalimat, seperti subjek,
predikat, objek, dan preposisi;
g. mengenal bentuk-bentuk dasar sintaksis;
h. merekonstruksi dan menyimpulkan situasi, tujuan-tujuan, dan partisipan;
i.
menggunakan
perangkat kohesif leksikal dan gramatikal guna menarik kesimpulan-kesimpulan;
j.
menggunakan
pengetahuan dan perangkat-perangkat kohesif leksikal dan gramatikal untuk
memahami topik utama atau informasi utama;
k. membedakan ide utama dari detail-detail yang disajikan;
l.
menggunakan strategi
membaca yang berbeda terhadap tujuan-tujuan membaca yang berbeda, seperti skimming
untuk mencari ide-ide utama atau melakukan studi secara mendalam.
4. Keterampilan menulis (writing skills)
Menulis merupakan salah
satu jenis keterampilan berbahasa ragam tulis yang bersifat produktif. Menulis
dapat dikatakan keterampilan berbahasa yang paling rumit di antara jenis-jenis
keterampilan berbahasa lainnya. Ini karena menulis bukanlah sekadar menyalin
kata-kata dan kalimat-kalimat; melainkan juga mengembangkan dan menuangkan
pikiran-pikiran dalam suatu struktur tulisan yang teratur. Berikut ini
keterampilan-keterampilan mikro yang diperlukan dalam menulis, penulis perlu
untuk:
a. menggunakan ortografi dengan benar, termasuk di sini penggunaan ejaan;
b. memilih kata yang tepat;
c. menggunakan bentuk kata dengan benar;
d. mengurutkan kta-kata dengan benar;
e. menggunakan struktur kalimat yang tepat dan jelas bagi pembaca;
f. memilih genre tulisan yang tepat, sesuai dengan pembaca yang dituju;
g. mengupayakan ide-ide atu informasi utama didukung secara jelas oleh
ide-ide atau informasi tambahan;
h. mengupayakan terciptanya paragraf dan keseluruhan tulisan koheren
sehingga pembaca mudah mengikuti jalan pikiran atau informasi yang disajikan;
i.
membuat dugaan
seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki oleh pembaca sasaran mengenai subjek
yang ditulis dan membuat asumsi mengenai hal-hal yang belum mereka ketahui dan
penting untuk ditulis.
Resume :
Pertemuan 5
A. Hakikat Pembelajaran Bahasa indonesia Lisan dan Tulis
Di dalam bahasa
Indonesia disamping dikenal kosa kata baku Indonesia dikenal pula kosa kata
bahasa Indonesia ragam baku, yang alih-alih disebut sebagai kosa kata baku
bahasa Indonesia baku. Kosa kata baasa Indonesia ragam baku atau kosa kata
bahasa Indonesia baku adalah kosa kata baku bahasa Indonesia, yang memiliki
ciri kaidah bahasa Indonesia ragam baku, yang dijadikan tolak ukur yang
ditetapkan berdasarkan kesepakatan penutur bahasa Indonesia, bukan otoritas lembaga
atau instansi di dalam menggunakan bahasa Indonesia ragam baku. Jadi, kosa kata
itu digunakan di dalam ragam baku bukan ragam santai atau ragam akrab. Walaupun
demikian, tidak tertutup kemungkinan digunakannya kosa kata ragam baku di dalam
pemakian ragam-ragam yang lain asal tidak mengganggu makna dan rasa bahasa
ragam yang bersangkutan.
Suatu ragam bahasa, terutama ragam bahasa
jurnalistik dan hukum, tidak tertutup kemungkinan untuk menggunakan bentuk
kosakata ragam bahasa baku agar dapat menjadi anutan bagi masyarakat pengguna
bahasa Indonesia. Dalam pada itu perlu yang perlu diperhatikan ialah kaidah
tentang norma yang berlaku yang berkaitan dengan latar belakang pembicaraan
(situasi pembicaraan), pelaku bicara, dan topik pembicaraan (Fishman ed., 1968;
Spradley, 1980). Menurut Felicia (2001 : 8), ragam bahasa dibagi berdasarkan :
Media pengantarnya atau sarananya, yang terdiri atas :
a.Ragam lisan
b.Ragam tulis
Ragam lisan adalah
bahasa yang diujarkan oleh pemakai bahasa. Kita dapat menemukan ragam lisan
yang standar, misalnya pada saat orang berpidato atau memberi sambutan, dalam
situasi perkuliahan, ceramah; dan ragam lisan yang nonstandar, misalnya dalam
percakapan antarteman, di pasar, atau dalam kesempatan nonformal lainnya. Ragam
tulis adalah bahasa yang ditulis atau yang tercetak. Ragam tulis pun dapat
berupa ragam tulis yang standar maupun nonstandar. Ragam tulis yang standar
kita temukan dalam buku-buku pelajaran, teks, majalah, surat kabar, poster,
iklan. Kita juga dapat menemukan ragam tulis nonstandar dalam majalah remaja,
iklan, atau poster. Jadi dalam ragam bahasa lisan, kita berurusan dengan lafal,
dalam ragam bahasa tulis, kita berurusan dengan tata cara penulisan (ejaan).
Selain itu aspek tata bahasa dan kosa kata dalam kedua jenis ragam itu memiliki
hubungan yang erat. Ragam bahasa tulis yang unsur dasarnya huruf, melambangkan
ragam bahasa lisan. Oleh karena itu, sering timbul kesan bahwa ragam bahasa
lisan dan tulis itu sama. Padahal, kedua jenis ragam bahasa itu berkembang menjdi
sistem bahasa yang memiliki seperangkat kaidah yang tidak identik benar,
meskipun ada pula kesamaannya. Meskipun ada keberimpitan aspek tata bahasa dan
kosa kata, masing-masing memiliki seperangkat kaidah yang berbeda satu dari
yang lain.
Resume
Pertemuan 6
Sistem Bahasa :
Sistem Fonologi, dan
Ejaan Bahasa Indonesia – Sistem bunyi dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan
istilah “Fonologi”. Fonologi dalam tuturan ilmu bahasa dibagi menjadi dua
bagian, yakni; Fonetik, yaitu ilmu bahasa yang membahas tentang bunyi-bunyi
ujaran yang dipakai dalam tutur dan bagaimana bunyi itu dihasilkan oleh alat
ucap manusia.Fonemik, yaitu ilmu bahasa yang membahas bunyi-bunyi bahasa yang
berfungsi sebagai pembeda makna. Mari kita bahas terlebih dahulu apa yang
disebut fonemik (fonem). Jadi apabila
kita berujar lalu arus ujaran tersebut kita potong atas bagian-bagiannya, dan
bagian-bagian itu kita potong lagi sampai pada unsur-unsurnya yang terkecil,
maka arus ujaran yang terkecil itu disebut dengan bunyi ujaran. Tiap bunyi
ujaran dalam satu bahasa mempunyai fungsi membedakan arti. Bunyi ujaran yang
dapat membedakan arti ini disebut fonem. Untuk dapat memahami pengertin fonem,
perhatikan contoh berikut; dari,daki,dasi,dahi,lari,tari,mari,sari, dan
seterusnya. Jelas tampak bahwa jika satu unsur diganti dengan unsur yang lain
maka akan membawa akibat yang sangat besar yaitu perubahan arti. Perubahan arti
juga dapat terjadi jika diucapkan dengan salah. Oleh karena itu tulisan yang
salah atau ucapan yang tidak jelas tidak bisa dianggap remeh. Kejelasan ucapan
dan ketepatan dalam penulisan fonem-fonem perlu dilatih sedini mungkin. Untuk
memahami struktur fonem dan perbedaan antara fonem dan grafem (huruf,perhatikan
tabel berikut; Susunan, Fonem, Jumlah, Fonem, Susunan, Huruf, Jumlah Huruf,
Kata yang,Terbentuk. Fonem adalah satuan bunyi bahasa yang terkecil yang dapat
membedakan arti. Fonem tidak dapat berdiri sendiri karena belum mengandung
arti. Sedangkan huruf atau grafem adalah gambaran dari bunyi atau fonem. Grafem
merujuk ke huruf atau gabungan huruf sebagai satuan pelambang fonem di dalam
satu ejaan. Dalam Bahasa Indoensia, secara resmi ada 32 buah fonem yang terdiri
atas;
1. Fonem fokal 6 buah; /a/, /i/, /u/, /e/, /∂/, dan /o/.
2. Fonem diftong 3 buah; /oy/, /ay/, dan /ou/.
3. Fonem Konsonan 23 buah; /p/, /b/, /m/, /t/, /d/, /n/, /c/, /j/, /n/,/k/,
/g/, /n/, /y/, /r/, /l/, /w/, /s/, /s/, /z/, /f/, /h/, /x/, dan/?/.
Selanjutnya fonem-fonem
ini akan membentuk satuan yaitu suku kata. Suku kata dapat didefinisikan dengan
jalan mengidentifikasi vonem vokalnya karena fonem vokal merupakan puncak
sonoritas (kenyaringan). Adanya fonem fokal dapat menandai jumlah suku kata
pada setiap kata dasar. Kata dasar Bahasa Indonesia sebagian besar terdiri atas
dua suku kata. Sebagian lainnya ada yang
memiliki 1, 3, 4, dan 5 suku kata.
• SISTEM MORFOLOGI (KATA) DALAM BAHASA INDONESIA
Morfologi adalah ilmu bahasa yang membahas tentng
bentuk-bentuk kata. Satuan bahasa yang menjadi unsur pembentuk kata disebut
morfem. Satuan yang menjadi unsur pembentuk kat ini adayang telah mengandung
makna, disebut gramatis, dan yang belum mengandung makna disebut nongramatis.
Pengertian Morfem :
a. Morfem ialah satuan gramatik yang paling kecil yang tidak mempunyai satuan
lain selain unsurnya (Ramlan, 1983 : 26).
b. Morfem ialah satuan bentuk terkecil yang mempunyai arti (Alwasilah, 1983 :
10).
c. Morfem ialah kesatuan gramatik yang terkecil yang mengandung arti, yang
tidak mempunyai kesamaan baik dalam bentuk maupun dalam arti dengan
bentuk-bentuk yang lain (Sitindoan, 1984 : 64).
Selanjutnya morfem ada macam yaitu :
1. Morfem bebas
Yaitu morfem yang
mempunyai potensi untuk berdiri sendiri sebagai kata dan dapat langsung
membentuk kalimat, contoh : bantu ia mandi
Kata menurut bentuknya
meliputi :
a. Kata dasar
b. Kata jadian, yang terbagi lagi menjadi
c. Berimbuhan;kata berawalan (prefiks), kata bersiispan (infiks) kata
berakhiran (supiks) dan kata yang berkonfiks.
d. Kata ulang
e. Kata majemuk
2. Morfem terikat
Merupakan morfem yang
belum mengandung arti maka morfem ini belum mempunyai peotensi sebagai kata.
Untuk membentuk kata, morfem ini harus digabung dengan morfem bebas. Morferm
terikat dalam bahasa indonesia ada 2 macam yakni :
a. Morfem terikat morfologis, yakni morfem yang terikat pada sebuah morfem
dasar
1) Prefiks = awalan;per-, me-ter-,di-,ber-dan lain-lain
2) Infiks = sisipan; -el-,-em-, -er-
3) Sufiks = akhiran; -an, -kan, -i
4) Konfiks = imbuhan gabungan senyawa; per-an, ke-an dan lain-lain.
b. Morfem trikat morfologi (imbuhan) mempunyai fungsi yang bermacam-macam
1) Membentuk kata kerja,
2) Membentuk kata benda
3) Membentuk kata sifat,
4) Membentuk kata bilangan
5) Membentuk kata tugas
c. Morfem terikat sintaksi Adalah morfem dasar yang tidak mamu berdiri sendiri
sebagai kata. Contoh : Dia yang menulis dan menjual buku itu
Dari deretan morfem yang menjadi unsur kata dalam kalimat di atas, jika
diklasifikasikan berdasarkan morfemnya adalah sebagai berikut : Dia,
nulis(tulis), jual, buku, itu adalah morfem bebas. Me-, men- adalah morfen
terikat morfologis. Bagaimana dengan morfem yang dan morfem dan?,yang dalam
kalimat di atas belum dapat berdiri sendiri sebagai kata karena tidak
mengandung makna tersendiri, begitu juga dengan dan. Gejala seperti inilah yang
tergolong morfem terikat sintaksis.
•STRUKTUR BAHASA INDONESIA (SINTAKSIS)
Sintaksis disebut juga
ilmu tata kalimat yang menguraikan hubungan antar unsur bahasa untuk membentuk
sebuah kalimat. Relevansi Sintaksis difokuskan pada unsur-unsur pembentuk
kalimat baik dari segi strukturnya (segmental maupun dari segi unsur-unsur pelengkapnya
(suprasegmental). Sintaksis perlu dipelajari karena ilmu ini mempelajari tata
bentuk kalimat yang merupakan kesatuan bahasa terkecil yang lengkap. Sintaksis
berhubungan dengan unsur bahasa lain yang ada keterkaitannya dengan unsur
pembentuk kalimat. Unsur tersebut antara lain fonem, kata, intonasi serta
kesenyapan dan kontur.
Secara keseluruhan
makalah ini meliputi hakikat kata, jenis-jenis kata, rangkaian fonem sebagai
pembentuk kata, perbendaharaan kata sebagai wujud dari kumpulan kata, istilah,
serta kata kiasan dan kata sebenarnya. Pembahasan mengenai frase meliputi
hakikat frasa, perbendaan frasa dengan kata majemuk, dan jenis-jenis frasa
berdasarkan distribusinya. Adapun pembahasan materi frasa meliputi hakikat
klausa dan ciri-cirinya. Sedangkan pembahasan mengenai kalimat meliputi hakikat
kalimat dan pembagian kalimat. Berdasarkan jumlah klausa yang membentuknya.
1. Pengertian Sintaksis
Sintaksis dalam bahasa Belanda Syntaxis, dalam bahasa
Inggris syntax dan dalam bahasa Arab nahwu ialah imlu bahasa yang berbicara
tentang hubungan antar unsur bahasa untuk membentuk sebuah kalimat. Itu
sebabnya dalam bahasa Indonesia (BI) sintaksis disebut juga ilmu tata kalimat.
Sintaksis adalah pembahasan tentang frase, kllausa, kalimat sebagai kesatuan
sistemisnya. Dalam sintaksis kita berbicara tentang kesatuan yang lebih besar
dari kata, yaitu frase, klausa dan kalimat. Sintaksis morfologis adalah bagian
dari tata bahasa atau gramatika. Orang yang ahli bahasa disebut linguis dan
semua pembicaraan yang bersifat linguistic disebut linguistis.
2. Kata
Kata adalah kesatuan bahasa terkecil yang membentuk
kalimat. Kata dibagi menjadi 2, yaitu yang mengandung makna leksikal dan makna
gramatikal atau makna struktural. Jenis pertama dapat dikenal melalui arti atau
maknanya seperti orang, rumah. Makna kata-kata itu yatiu makna leksikalnya
dapat dicari dalam kamus. Dalam tata bahasa tradisional, kata adalah kesatuan
bahasa terkecil yang mengandung arti atau makna. Dalam tata bahasa struktural,
unsur bahasa terkecil adalah morfem. Morfem itu mengandung bauk makna leksikal
maupun makna gramatikal. Kata dapat dibedakan atas kata dasar, kata turunan,
kata ulang, dan kata majemuk.
Kata dasar adalah bentuk sederhana
yang belum diberi tambahan apa-apa. Kata turunan adalah kata-kata dasar yang
sudah diberi tanbahan berupa prefik, infiks, sufiks, konfiks, atau gabungan
tambahan-tambahan itu. Kata ulang atau reduplikasi ialah kata dasar yang
diulang baik tanpa bubuhan maupun dengan bubuhan. Kata mejemuk adalah kata yang
terdiri atas dua unsur, tetapi mengandung satu pengertian. Kata terdiri dari
rangkaian fonem yang teratur sesuai dengan kaidah bahasa yang bersangkutan.
Dalam bahasa Indonesia, kata dapat
terdiri atas dua fonem seperti di, ke, tiga fonem seperti ini, itu, empet fonem
seperti tadi, batu, saya, lima fonem seperti ambil, tarik, dan seterusnya.
Fonem dalam bahasa Indonesia ada dua macam yaitu fonem vokal dan fonem
konsonan. Kata adalah unsur bahasa terkecil yang bermakna atau berfungsi, yang
membentuk frase, klausa, dan kalimat. Kumpulan kata dalam suatu bahasa disebut
perbendaharaan kata bahasa itu. (vocabulary, Ing.) yang terdiri atas kata-kata
asli dan kata-kata yang diserap yang diserap dari bahasa lain. Bahasa Indonesia
menyerap kata-kata dari bahasa-bahasa daerah yang ada di indonesia seperti,
dari bahasa Jawa, Sunda, dan Minangkabau. Juga menyerap kata-kata asing seperti
kata-kata dari bahasa Arab, Sansekerta, Belanda, Portugis, Cina dan Tamil.
Kata-kata serapan itu baik ejaan maupun lafalnya disesuaikan dengan ejaan dan
lafal bahasa Indonesia. Istilah adalah kata yang mengandung makna khusus, makna
tertentu yang tidak bergantung pada konteks. Dalam kalimat bagaimanapun, arti
istilah itu tetap. Contohnya istilah morfologis, sintaksis, morfofonemik, dan
alomorf bukan kata-kata umum yang dapat dipahami oleh siapa saja.
Istilah-istilah tersebut merupakan istilah bahasa yang hanya dikenal oleh orang
yang mempelajari ilmu bahasa.
3. Frase atau frasa
Frase atau frasa (dari bahasa Inggris phrase) adalah
kesatuan bahasa yang lebih besar daripada kata karena frase selalu terdiri atas
dua patah kata atau lebih. Perpaduan kata-kata itu menimbulkan makna baru.
Frase bentuknya sama dengan kata majemuk karena
sama-sama terdiri atas paduan dua kata. Namun, frase berbeda dari kata majemuk
(compound, Ing). Bila komponen-komponen frase tetap mempertahankan identitasnya
yaitu maknanya sendiri, maka komponen kata mejemuk dapat kehilangan maknanya
sama sekali. Frase berdasarkan distribusinya terbagi atas frase endosentrik dan
frase eksosentrik. Dikatakan endosentrik bila distribusi frase itu sama dengan
distribusi komponennya baik kedua-duanya atau salah satunya. Frase endosentrik
terbagi lagi atas : Frase endosentrik koordinatif, frase endosentrik atributif,
dan frase endosentrik apositif. Hubungan antara unsur-unsur frase itu
menentukan makna antarunsurnya, misalnya frase nominal, frase verbal, frase
adjektiva, frase adverbial, frase numeralia, dan frase preposisional.
4. Klausa
Klausa adalah kesatuan bahasa yang terdiri atas dua
bagian yang berfungsi sebagai subjek dan predikat. Bisa terdiri atas dua kata,
bisa juga lebih. Namun, klausa yang terdiri atas subjek dan predikat itu baru
dapat berubah menjadi kalimat apabila diberi intonasi final. Klausa tidak
memiliki intonasi final, jika dituliskan tanpa tanda baca akhir titik, tanda
tanya, dan tanda seru, yang terpenting dalam klausa adalah predikatnya.
5. Kalimat
Kalimat adalah
kesatuan bahasa terkecil yang lengkap. Dikatakan lengkap sebab kalimat itu
dapat berdiri sendiri dan dapat dipahami sebab ada maksudnya. Unsur kalimat
yang terpenting dan mesti ada ialah unsur yang menduduki fungsi subjek dan
predikat. Sedangkan bahasa lisan dibantu dengan intonasi, oleh mimik, dan
gerak-gerik tubuh, yang tidak terdapat dalam bahasa tulis. Unsur lain yang
membantu pengertian adalah situasi.
Kalimat yang terdiri atas satu klausa disebut kalimat
ekaklausa atau kalimat tunggal. Kalimat yang terdiri atas beberapa klausa
disebut kalimat poliklausa atau kalimat majemuk. Intonasi dalam kalimat
memainkan peranan penting karena menunjukkan bahwa ka,imat itu berisi
pemberitahuan, pertanyaan, permintaan, ajakan, harapan atau perintah. Dalam
bertutur, setiap tiba pada akhir kalimat ada kesenyapan. Sesudah itu baru kita
lanjutkan lagi dengan kalimat berikut. Kontur adalah bagian dari arus ujaran
yang diantarai oleh kesenyapan.
Kontur-kontur
itu diapit oleh kesenyapan. Ada kalimat yang terdiri atas satu kontur diapit
oleh kesenyapan awal dan kesenyapan akhir. Kesenyapan di antara dua kontur yang
berlangsung dalam waktu yang pendek disebut kesenyapan antara, kesenyapan non
final. Kalimat yang hanya terdiri dari atas predikat, objek, pelengkap atau
keterangan disebut kalimat minor atau kalimat yang terdiri atas sepatah kata
atau sebuah frase sebagai jawaban atas pertanyaan. Sedangkan kalimat yang
memiliki unsur utama atau pokok, yaitu subjek dan predikat disebut kalimat
mayor.
SEMANTIK
Menurut Katz (1971:3)
semantik adalah studi tentang makna bahasa. Sementara itu semantik menurut
Kridalaksana dalam Kamus Linguistik adalah bagian struktur bahasa yang
berhubungan dengan makna ungkapan dan juga dengan struktur makna suatu wicara.
Secara singkat, semantik ini mengkaji tata makna secara formal (bentuk) yang
tidak dikaitkan dengan konteks. Akan tetapi, ternyata ilmu yang mempelajari
atau mengkaji makna ini tidak hanya semantik, ada juga pragmatik. Untuk
membedakannya, berikut ini ada beberapa poin yang mudah untuk diingat dan dapat
dengan jelas membedakan semantik dengan pragmatik. Perbedaan kajian makna dalam
semantik dengan pragmatik
1. Pragmatik mengkaji makna di luar jangkauan semantik Contoh: Di sebuah ruang
kelas, Dewi duduk di deretan kursi belakang. Lalu, ia berkata kepada gurunya,
“Pak, maaf saya mau ke belakang.” , seperti pergi ke toilet atau tempat
lainnya. Nah, kalau yang ini masuk akal kan?. Jadi, makna kata ‘belakang’ dalam
kalimat di atas tidak dapat dijelaskan secara semantik, hanya bisa dijelaskan
secara pragmatik. Maka dari itulah dinyatakan bahwa kajian makna pragmatik
berada di luar jangkauan semantik.
2. Sifat kajian dalam semantik adalah diadic relation (hubungan dua arah),
hanya melibatkan bentuk dan makna. Sifat kajian dalam pragmatik adalah triadic
relation (hubungan tiga arah), yaitu melibatkan bentuk, makna, dan konteks.
3. Semantik merupakan bidang yang bersifat bebas konteks (independent
context), sedangkan pragmatik bersifat terikat dengan konteks (dependent
context). Hal ini dapat dijelaskan pada contoh soal poin ke-1. Pada contoh
tersebut, ketika makna kata ‘belakang’ dikaji secara semantik, ia tidak
memperhatikan konteksnya bagaimana (independent context), ia hanya dikaji
berdasarkan makna yang terdapat dalam kamus. Namun, ketika kata ‘belakang’
dikaji dengan pragmatik, konteks siapa yang berbicara, kepada siapa orang itu
berbicara, bagaimana keadaan si pembicara, kapan, di mana, dan apa tujuannya
ini sangat diperhatikan sehingga maksud si pembicara dapat dimengerti oleh
orang-orang di sekitarnya.
4. Salah satu objek kajian semantik adalah kalimat, sehingga semantik ini
sering disebut makna kalimat. Dalam pragmatik, objek kajiannya adalah tuturan
(utterance) atau maksud.
5. Semantik diatur oleh kaidah
kebahasaan (tata bahasa), sedangkan pragmatik dikendalikan oleh prinsip
komunikasi. Jadi, kajian makna dalam semantik lebih objektif daripada pragmatik
karena hanya memperhatikan makna tersebut sesuai dengan makna yang terdapat
dalam leksemnya. Kajian makna pragmatik dapat dikatakan lebih subjektif karena
mengandung konteks/memperhatikan konteks dan setiap orang pasti mempunyai makna
sendiri sesuai dengan konteks yang dipandangnya. Selain itu, pragmatik juga
dimotivasi oleh tujuan komunikasi. Pemaknaan semantik itu ketat karena terpaku
pada makna kata secara leksikal (tanpa konteks), sedangkan pemaknaan pragmatik
lebih lentur karena tidak mutlak bermakna “itu”.
6. Semantik bersifat konvensional, sedangkan pragmatik bersifat
nonkonvensional. Dikatakan konvensional karena diatur oleh tata bahasa atau
menggunakan kaidah-kaidah kebahasaan.
7. Semantik bersifat formal (dengan memfokuskan bentuk: fonem, morfem, kata,
klausa, kalimat), sedangkan pragmatik bersifat fungsional.
8. Semantik bersifat ideasional, maksudnya yaitu makna yang ditangkap masih
bersifat individu dan masih berupa ide karena belum dipergunakan dalam berkomunikasi,
sedangkan pragmatik bersifat interpersonal, maksudnya yaitu makna yang dikaji
dapat dipahami/ditafsirkan oleh orang banyak, tidak lagi bersifat individu
karena sudah menggunakan konteks.
9. Representasi (bentuk logika) semantik suatu kalimat berbeda dengan
interpretasi pragmatiknya. Contoh: “Kawan, habis makan-makan kita minum-minum
yuk…”
o Dikaji dari semantik, kata “minum-minum” berarti melakukan kegiatan ‘minum
air’ berulang-ulang, tidak cukup sekali minum.
o Dikaji dari segi pragmatik, kata “minum-minum” berarti meminum minuman
keras (alkohol).
MAKNA
Aspek makna dibedakan
atas empat macam yaitu pengertian (sense), perasaan (feeling), nada (tone), dan
maksud atau tujuan (intention). Pengertian sense sama dengan tema. Perasaan
berkaitan dengan sikap pembicara terhadap apa yang sedang dibicarakan serta
bagaimana situasi pembicaraan saat itu. Nada adalah sikap pembicara terhadap
lawan bicaranya. Maksud adalah hal yang mendorong pembicara untuk mengungkapkan
satuan-satuan bahasa. Contohnya yaitu “Hari ini panas”, apabila orang yang
diajak berbicara itu menanggapinya dengan hal lain seperti meminta minum, maka
akan berbeda pula dengan maksud di penutur (hanya memberi tahu bahwa hari ini
cuacanya panas).
1. Jenis Makna
a. Makna leksikal adalah makna yang terdapat pada kata tersebut secara utuh,
sesuai dengan bawaannya. Contoh “Tikus itu mati diterkam kucing”, makna kata
‘tikus’ pada kalimat tersebut adalah ‘binatang tikus’, bukan yang lainnya.Makna
konseptual adalah makna yang sesuai dengan konsepnya, makna yang bebas dari
asosiasi atau hubungan apa pun.
b. Makna generik adalah makna konseptual yang luas, umum, yang mencakup
beberapa makna konseptual yang khusus maupun umum. Contoh kata ‘sekolah’ dalam
kalimat “Sekolah kami menang”, bukan hanya gedung sekolahnya saja yang menang,
tetapi juga mencakup guru-gurunya, muridnya, dan warga sekolah lainnya. Bila
kita berkata, “Ani sekolah di Lampung”, hal ini sudah tidak dapat dikaitkan
dengan makna konseptual sekolah, tetapi sudah lebih luas yaitu Ani belajar di
gedung yang namanya sekolah dan sekolah tersebut berada di Lampung.Makna
spesifik adalah makna konseptual yang khusus, khas, dan sempit. Contoh pada
kalimat “Pertandingan sepak bola itu berakhir dengan kemenangan Bandung”, yang
dimaksud hanya beberapa orang yang bertanding saja, bukan seluruh penduduk
Bandung.
c. Makna asosiatif disebut juga makna kiasan. Makna asosiatif adalah makna
yang dimiliki sebuah kata berkenaan dengan adanya hubungan kata dengan keadaan
di luar bahasa. Contoh kata ‘bunglon’ berasosiasi dengan makna ‘orang yang
tidak berpendirian’, kata ‘lintah darat’ berasosiasi dengan makna ‘orang yang
suka memeras (pemeras) atau pemakan riba’.
d. Makna konotatif adalah makna yang digunakan untuk mengacu bentuk atau makna
lain yang terdapat di luar leksikalnya.
e. Makna afektif adalah makna yang muncul akibat reaksi pendengar atua pembaca
terhadap penggunaan bahasa. Contoh “datanglah ke pondok buruk kami”, gadungan
‘pondok baru kami’ mengandung makna afektif ‘merendahkan diri’.
f. Makna stilistika adalah makna yang timbul akibat pemakaian bahasa. Makna
stilistika berhubungan dengan pemakaian bahasa yang menimbulkan efek terutama
kepada pembaca. Makna stilistika lebih dirasakan di dalam karya sastra.
g. Makna kolokatif adalah makna yang berhubungan dengan penggunaan beberapa
kata di dalam lingkungan yang sama. Contoh kata-kata ikan, gurame, sayur,
tomat, minyak, bawang, telur, garam, dan cabai tentunya akan muncul di
lingkungan dapur. Contoh lain yaitu bantal, kasur, bantal guling, seprei,
boneka, selimut, dan lemari pakaian tentu akan muncul di lingkungan kamar
tidur.
h. Makna idiomatik adalah makna yang ada dalam idiom, makna yang menyimpang
dari makna konseptual dan gramatikal unsur-unsur pembentuknya. Dalam Bahasa
Indonesia ada dua macam idiom yaitu IDIOM PENUH dan IDIOM SEBAGIAN. Idiom penuh
adalah idiom yang unsur-unsurnya secara keseluruhan merupakan satu-kesatuan
dengan satu makna. Contoh “Orang tua itu membanting tulang untuk mencukupi
kebutuhan anaknya”, ungkapan ‘membanting tulang’ dalam kalimat tersebut tentu
memiliki satu kesatuan makna yaitu ‘kerja keras’. Idiom sebagian adalah idiom
yang di dalam unsur-unsurnya masih terdapat unsur yang memilikii makna
leksikal. Contoh ‘daftar hitam’ yang berarti ‘daftar yang berisi nama-nama
orang yang dicurigai atau dianggap bersalah’.
i.
Makna kontekstual
muncul sebagai akibat adanya hubungan antara ujaran dengan situasi. Contoh
“Saya lapar, Bu, minta nasi!” yang berarti orang tersebut berada dalam situasi
yang benar-benar lapar dan ia meminta nasi.
j.
Makna gramatikal adalah
makna yang muncul sebagai akibat berfungsiinya sebuah kata dalam suatu kalimat.
Contoh kata ‘mata’, secara leksikal bermakna alat/indera yang berfungsi untuk
melihat, tetapi setelah digabung dengan kata-kata lain menjadi ‘mata pisau’,
‘mata keranjang’, ‘mata air’, ‘air mata’, dan ‘mata duitan’ maka maknanya akan
berubah menjadi makna gramatikal.
k. Makna tematikal adalah makna yang dikomunikasikan oleh pembicara/penulis
melalui urutan kata-kata, fokus pembicaraan, maupun penekanan pembicaraan.
Contoh “Aminah anak Bapak Roni meninggal dunia kemarin”, makna dari kalimat
tersebut bisa ada tiga yaitu:
1) Aminah/anak Bapak Roni/meninggal kemarin.
2) Aminah!/anak Bapak Roni meninggal kemarin.
3) Aminah/anak/Bapak/Roni/meninggal kemari/Makna kalimat (1) adalah anak Bapak
Roni yang bernama Aminah telah meninggal kemarin, kalimat (2) berarti sebuah
informasi memberi tahu Aminah bahwa anak Bapak Roni yang entah siapa namanya
telah meninggal kemarin, dan kalimat (3) berarti ada emmpat orang yang meinggal
kemarin yaitu Aminah, anak, Bapak, dan Roni.
Relasi Makna, Relasi
makna adalah hubungan antara makna kata yang satu dengan makna kata yang
lainnya. Prinsip relasi makna ada empat yaitu prinsip kontiguitas, prinsip
komplementasi, prinsip overlaping, dan prinsip inklusi. PRINSIP KONTIGUITAS
adalah prinsip yang menjelaskan bahwa beberapa kata dapat memiliki makna yang
sama/mirip; prinsip ini dapat menimbulkan relasi makna yang disebut SINONIMI.
PRINSIP KOMPLEMENTASI adalah prinsip yang menjelaskan bahwa makna kata yang
satu berlawanan dengan makna kata yang lainnya; prinsip ini dapat menimbulkan
relasi makna yang disebut ANTONIMI. PRINSIP OVERLAPING adalah prinsip yang
menjelaskan bahwa satu kata memiliki makna yang berbeda, atau kata-kata yang
sama bunyinya tetapi berbeda maknanya; prinsip ini menimbulkan adanya relasi
makna yang disebut HOMONIMI dan POLISEMI. PRINSIP INKLUSI adalah prinsip yang
menjelaskan bahwa makna satu kata mencakup beberapa mekna kata lain; prinsip
ini dapat menimbulkan adanya relasi makna yang disebut HIPONIMI.
·
Contoh sinonimi:
o
Pintar, pandai, cerdik,
cerdas, cakap
o
Cantik, molek, bagus,
indah, permai
o
Bunga, kembang, puspa
o
Aku, saya, beta, hamba
·
Contoh antonimi:
o
Kuat >< dingin
·
Contoh homonimi:
§ Homonimi yang berhomograf dan berhomofon:
o
bisa = (1)
sanggup/dapat, (2) racun ular
o
buku = (1) media untuk
menulis/membaca, (2) bagian tekukan pada jari-jari
§ Homonimi yang tidak berhomograf (homofon):
o
bang = bentuk singkat
dari ‘abang’ yang berarti kakak laki-laki
o
bank = lembaga yang
mengurus lalu lintas uang
o
sangsi = ragu-ragu,
bimbang
o
sanksi = hukuman,
konsekuensi, akibat
o
sah = dilakukan menurut
hukum
o
syah = raja
o
syarat = ketentuan
o
sarat = penuh
§ Homonimi yang tidak berhomofon (homograf):
o
teras = pegawai utama
o
teras [tѐras] = halaman
depan rumah, lantai rumah tempat bersantai
o
apel = nama buah
o
apel [apѐl] = upacara
resmi
o
tahu [tau] = mengerti,
paham
o
tahu = nama makanan
yang terbuat dari kedelai yang digiling halus
·
contoh hiponimi:
Hubungan antar hiponim
(merah, kuniing hijau) disebut kohiponim.
·
Contoh polisemi:
kepala (karena selalu terletak di bagian atas/tertinggi posisinya, contoh
kepala suku, kepala surat, kepala sekolah) • mulut (sebagai jalan masuk dan
letaknya selalu di depan, contoh mulut gua, mulut harimau, mulut gang, mulut
botol) • bibir (terletak di tepian, contoh bibir sungai)
Unsur bahasa :
Paragraf dan wacana juga baru mendapat
perhatian setelah para ahli bahasa mendapati permasalahan bahasa yang tidak
dapat diselesaikan dengan disiplin ilmu yang telah ada seperti fonetik,
fonemik, morfologi, sintaksis, dan semantik. Akhirnya muncullah disiplin ilmu
bernama analisis wacana yang mempelajari satuan kebahasaan bernama paragraf dan
wacana itu sendiri.
Satuan kebahasaan
berkaitan dengan bentuk dan makna. Bentuk satuan kebahasaan berupa deret bunyi
bahasa. Bentuk tersebut bersifat acak atau arbitrer. Sementara itu makna suatu
satuan kebahasaan bersifat linier atau tetap. Misalnya untuk mengungkapkan
makna ‘lembaran-lembaran kertas yang terjilid, dapat berisi tulisan atau
kosong’ dapat digunakan bentuk buku atau bisa juga dengan bentuk book atau bentuk
lain dari berbagai bahasa. Makna di atas bersifat tetap tetapi bentuk untuk
mengungkapkan makna tersebut acak atau tidak tetap.
Sepuluh satuan
kebahasaan tersebut dapat dibagi menjadi dua yaitu satuan kebahasaan yang belum
memiliki makna atau satuan fonologis dan satuan kebahasaan yang yang bermakna
atau satuan gramatikal. Yang termasuk satuan fonologis adalah fona atau bunyi,
fonem, dan silabel atau suku kata. Sementara itu satuan gramatikal meliputi
morfem, kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf, dan wacana. Satuan gramatikal
memiliki dua unsur yaitu bentuk dan makna. Bentuk satuan gramatikal berupa
struktur fonologis atau urutan fonem. Sementara itu, satuan fonologis hanya
memiliki bentuk.
Mengenai makna, ada dua
jenis makna yaitu makna leksikal dan makna gramatikal. Makna leksikal adalah
makna yang timbul karena ada hubungan antara satuan kebahasaan, konsep, dan
objek atau referen (Baryadi, 2011: 14). Misalnya, kata gunting memiliki makna
leksikal ‘perkakas untuk memotong kain (kertas, dsb)’. Di situ terdapat
hubungan antara sebuah objek berupa benda yang disebut gunting, dengan konsep
makna di atas, dengan bentuk satuan kebahasaan berupa kata gunting. Sementara
itu, makna gramatikal adalah makna yang timbul karena bertemunya dua atau lebih
satuan gramatikal. Misalnya, imbuhan me(N)- bertemu dengan kata gunting menjadi
menggunting. Kata menggunting memiliki makna gramatikal ‘memotong sesuatu
dengan gunting’. Berikut merupakan bagan satuan-satuan kebahasaan dari yang
terbesar hingga terkecil berserta cabang linguistik yang mengkajinya. Berikut
merupakan definisi secara ringkas tiap-tiap satuan kebahasaan.
a. Wacana
Secara etimologis kata wacana berakar dari kata bahasa Sansekerta vacana
yang berarti ‘bacaan’. Kata tersebut masuk ke dalam bahasa Jawa Kuna dan bahasa
Jawa Baru sebagai wacana yang berarti ‘bicara’, ‘kata’, ‘ucapan’. Oleh bahasa
Indonesia kata wacana diserap dengan arti ucapan, percakapan, kuliah (Baryadi,
2002: 1).
Dari situ, istilah wacana digunakan sebagai kata untuk menerjemahkan kata
bahasa Inggris discourse. Kata discourse sendiri berasal dari kata Latin
discursus yang berarti ‘lari kian kemari’ (yang diturunkan dari dis- yang
bararti ‘dari’, ‘dalam arah yang berbeda’ dan curere yang berarti ‘lari’).
Kemudian discourse diartikan sebagai komunikasi pikiran dengan kata-kata;
ekspresi ide-ide atau gagasan-gagasan; percakapan; komunikasi secara umum;
ceramah dan kotbah (Webster, 1983: 522 dalam Baryadi, 2002: 1).
Menurut kamus linguistik, wacana didefinisikan sebagai
satuan kebahasaan terlengkap; dalam hierarki gramatikal merupakan satuan
gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana direalisasikan dalam bentuk karangan
yang utuh (buku, ensiklopedi, novel, dll) paragraf, kalimat atau kata yang
membawa amanat yang lengkap (Kridalaksana, 2008: 259).
Dari semua definisi yang telah dikemukakan di atas,
ada benang merah yang dapat ditarik mengenai pengertian wacana.Wacana merupakan
satuan bahasa di atas tataran kalimat yang digunakan untuk berkomunikasi dalam
konteks sosial. Konteks adalah sesuatu yang menyertai, bersama, dan mendukung
keberadaan wacana itu sendiri. Pengguna bahasa harus memperhatikan konteks agar
dapat menggunakan bahasa secara tepat dan menentukan makna secara tepat pula.
Dengan kata lain, pengguna bahasa senantiasa terikat konteks dalam menggunakan
bahasa.
b. Paragraf
Paragraf menurut kamus linguistik adalah bagian dari
wacana yang mengungkapkan pikiran atau hal tertentu yang lengkap tetapi masih
berkaitan dengan isi seluruh wacana. Paragraf dapat terdiri dari satu atau
sekelompok kalimat yang saling berkaitan (Kridalaksana, 2008:173). Paragraf
atau sering juga disebut alinea merupakan bagian dari suatu karangan yang
penulisannya dimulai dengan baris baru dan merupakan suatu kesatuan pikiran
yang berisikan satu ide pokok dalam rangkaian kalimat-kalimat. Jadi paragraf
merupakan kumpulan beberapa kalimat yang mengandung satu ide pokok dan
merupakan bagian dari sebuah karangan utuh yang mendukung topik pembicaraan
karangan tersebut.
Dalam satu paragraf terdapat satu kalimat utama dan
satu atau lebih kalimat penjelas. Seperti halnya wacana, setiap kalimat yang
berurutan harus memiliki hubungan timbal balik dan tidak boleh saling
bertentangan. Kalimat-kalimat yang menyusun sebuah paragraf juga harus bersifat
utuh dan padu seperti pada kasus wacana. Contoh paragraf:
Sekarang adalah musim panas. Di setiap sore tak ada
orang yang berada di dalam rumah. Mereka suka berjalan-jalan dan duduk di tepi
jalan. Aku dan temanku sering keluar ke bioskop musim panas. Di sana ada
pohon-pohon yang rindang yang membuat udara menjadi sejuk. Kadang filmnya
kurang bagus, tetapi kami tak mempedulikannya sebab masih banyak hiburan yang
lain seperti pemandangan di langit malam. Langit malam di musim panas sangat
indah. Langit terlihat bersih dan bintang-bintang bagaikan tersebar merata saling
menampakkan sinar kecilnya. Di sana juga sering terlihat bulan yang terlihat
besar dan bersinar terang. Sungguh ini adalah suasana yang menyenangkan.
c. Kalimat
Kalimat adalah sekelompok kata-kata yang menyatakan
pikiran lengkap dan memiliki subjek dan predikat. Subjek adalah sesuatu tentang
mana sesuatu itu dibicarakan. Predikat adalah sesuatu yang dikatakan tentang
subjek.
Namun
pengertian di atas menjadi kurang sempurna karena satuan kebahasaan yang lain
yaitu klausa juga memiliki pengertian yang hampir sama. Perbedaan mendasar
terdapat pada intonasi. Kalimat adalah satuan lingual yang diakhiri oleh lagu
akhir selesai baik lagu akhir selesai turun maupun naik (Wijana, 2009:56).
Kalimat menjadi jelas ketika diucapkan. Kesimpulannya, kalimat adalah satuan
bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan
secara aktual maupun potensial terdiri dari klausa (Kridalaksana,
2008:103).Contoh kalimat:
o Hai!
o Ini Budi, Budi bermain bola.
o Aku akan pergi jika hujan sudah reda.
o Ketika nenek datang, ayah sedang membaca koran dan ibu
sedang memasak.
d. Klausa
Klausa adalah satuan kebahasaan yang bersifat predikatif. Maksudnya satuan
lingual ini melibatkan predikat sebagai unsur intinya (Wijana, 2009:54). Oleh
karena itu, klausa sekurang-kurangnya terdiri atas dua kata yang mengandung
hubungan fungsional subjek-predikat dan secara fakultatif dapat diperluas
dengan beberapa fungsi yang lain seperti objek dan keterangan (Keraf,
1991:181).
Seperti penjelasan pada poin kalimat, pengertian klausa sering mengalami
silang pengertian dengan kalimat. Sebenarnya permasalahannya ada pada intonasi
pengucapan. Klausa tidak mengenal intonasi. Yang lebih ditekankan pada klausa
adalah unsur-unsur dasar seperti yang disebutkan di atas. Walaupun demikian
klausa dan kalimat memang memiliki hubungan yang sangat erat. Sebuah kalimat
tunggal terdiri dari satu klausa dan kalimat majemuk terdiri dari dua atau
lebih klausa. Secara sederhana kamus linguistik mengatakan bahwa klausa adalah
kelompok kata yang yang sekurang-kurangnya memiliki subjek dan predikat dan
berpotensi sebagai kalimat (Kridalaksana, 2008:124). Contoh klausa:
- Ibu
pergi
- Setelah aku belajar
e.
Frasa
Pada dasarnya frasa adalah gabungan kata. Namun tak
semua gabungan kata merupakan frasa. Frasa merupakan gabungan kata yang tidak
melewati batas fungsi. Yang dimaksud dengan fungsi adalah istilah seperti
subjek, predikat, objek, dan keterangan (Wijana, 2009:46).
Menurut Gorys Keraf, frasa merupakan gabungan dua atau
lebih kata yang mana masing-masing kata tetap mempertahankan makna dasar
katanya dan setiap kata pembentuknya tidak berfungsi sebagai subjek dan
predikat dalam konstruksi itu. Hal ini penting untuk membedakan frasa dengan
kata majemuk dan frasa dengan kalimat atau klausa. Kata majemuk juga merupakan
gabungan kata namun kata-kata yang bergabung tersebut telah melahirkan
pengertian baru dan setiap kata tidak lagi mempertahankan maknanya. Misalnya
kambing hitam sebagai kata majemuk bukan berarti kambing yang hitam melainkan
orang yang dipersalahkan, sedangkan sebagai frasa kambing hitam berarti kambing
yang hitam.
Dari dua definisi di atas dapat disimpulkan bahwa
frasa adalah gabungan kata yang mana setiap kata tetap mempertahankan makna
masing-masing dan gabungan kata tersebut tidak melewati batas fungsi. Dalam
sebuah frasa hanya terdapat satu kata sebagai unsur inti atau unsur pusat.
Kata-kata yang lain hanyalah sebagai unsur penjelas. Contoh frasa:
rumah
saya, sedang makan, sangat banyak, di kampus, sepuluh ekor,
f. Kata
Kata adalah bentuk bebas yang terkecil yang tidak
dapat dibagi menjadi bentuk bebas yang lebih kecil lagi (Wijana, 2009:33).
Berdasarkan kamus linguistik, kata adalah satuan bahasa yang dapat berdiri
sendiri, terjadi dari morfem tunggal atau gabungan morfem; satuan terkecil dari
leksem yang telah mengalami proses morfologis; morfem atau kombinasi morfem
yang oleh ahli bahasa dianggap sebagai satuan terkecil yang dapat diujarkan
sebagai bentuk yang bebas (Kridalaksana, 2008: 110).
Sementara itu, Gorys Keraf menjelaskan bahwa
pengertian kata tidak dapat dipisahkan dengan pengertian arti. Arti adalah
hubungan antara tanda berupa lambang bunyi ujaran dengan hal atau barang yang
diwakilinya. Jadi kata merupakan lambang bunyi ujaran tentang suatu hal atau
peristiwa. Seperti halnya manusia yang memiliki nama demikian juga benda dan
peristiwa yang juga memiliki lambang bunyi ujaran berupa kata yang memiliki
arti atau makna.
Contoh kata: makan, rumah, pakaian.
g.
Morfem
Morfem adalah satuan gamatikal terkecil yang berperan
sebagai pembentuk kata (Wijana, 2009:33). Sebagai pembentuk kata morfem
merupakan satuan kebahasaan yang terkecil yang maknanya secara relatif stabil
dan tidak dapat dibagi atas bagian bermakna yang lebih kecil (Kridalaksana,
2008:157). Dalam bahasa Indonesia morfem juga dapat berupa imbuhan.
Dalam morfem dikenal istilah morfem dasar yaitu morfem
yang dapat berdiri sendiri seperti lari, datang, tidur, dsb. Ada juga morfem
terikat yaitu morfem yang tidak dapat berdiri sendiri seperti awalan ber-,
me(N-), akhiran –kan, -i, dsb. selain itu dikenal juga istilah morfem dasar
yaitu bentuk yang merupakan dasar pembentukan kata polimorfemik (kata yang
terdiri dari lebih dari satu morfem) misalnya rumah, alat, meja, dsb.
Sebuah morfem dasar dengan sendirinya sudah membentuk
kata. Namun sebaliknya, konsep kata tidak saja meliputi morfem dasar tetapi
juga meliputi semua bentuk gabungan antara morfem dasar dengan morfem terikat
atau morfem dasar dengan morfem dasar. Contoh morfem
{kerja}, {pergi}, {juang}, {ber-}, {per-}, {per-an}
h. Silabel
Dalam kamus linguistik, silabel atau suku kata dapat dilihat dari tiga
sudut pandang yaitu sudut fisiologi, artikulasi, dan fonologi. Dari sudut
fisiologi, suku kata adalah ujaran yang terjadi dalam satu denyut yakni pada
satu penegasan otot pada waktu penghembusan udara dari paru-paru. Dari sudut
artikulasi, silabel adalah regangan ujaran yang terjadi dari satu puncak
kenyaringan di antara dua unsur yang tak berkenyaringan. Dari sudut fonologi
silabel adalah struktur yang terjadi dari satu fonem atau urutan fonem bersama
dengan ciri lain seperti kepanjangan atau tekanan (Kridalaksana, 2008:230).
Dari pengertian tersebut diambil benang merah bahwa silabel adalah satuan
ritmis yang terkecil. Artinya satuan yang memiliki puncak kenyaringan yang
lazimnya diduduki oleh bunyi-bunyi vokal (Wijana, 2009:28). Bunyi konsonan
berperan sebagai lembah suku. Contoh
silabel:
Kata
kaki berasal dari suku kata ka- dan -ki.
Kata
tangan berasal dari suku kata ta- dan -ngan.
i. Fonem
Fonem adalah bunyi-bunyi yang berpotensi sebagai pembeda makna (Wijana,
2009:22). Salah satu cara menentukan sebuah fonem dalam sebuah sistem bahasa
adalah dengan pasangan minimal. Pasangan minimal adalah dua buah kata yang
memiliki satu bunyi yang berbeda. Misalnya kata tali dan tari. Dalam kedua kata
tersebut terapat dua bunyi berbeda yaitu [l] dan [r]. Dengan demikian bunyi [l]
dan [r] dalam bahasa Indonesia adalah fonem.
j. Fona
k. Fona atau bunyi bahasa adalah satuan bunyi yang dihasilkan alat ucap
manusia dan diamati dalam fonetik sebagai fon atau dalam fonologi fonem
(Kridalaksana, 2008:38). Ada dua jenis bunyi bahasa yaitu vokoid yaitu bunyi
yang dihasilkan dengan arus udara yang tidak mengalami rintangan (Wijana,
2009:16). Misalnya [a], [i], [e], dsb. Jenis yang kedua adalah kontoid yaitu
bunyi yang dihasilkan dengan arus udara yang mengalami rintangan atau hambatan
(Ibid, 2009:18). Misalnya [p], [r], [t], dsb.
Resume
Pertemuan 7 dan
9
A.
Materi Literasi Kelas Awal
1.
Membaca
· Mengidentifikasi nama-nama huruf dan bunyinya.
· Memasangkan kata-kata yang diucapkan pada tulisan.
· Menyamakan tulisan dengan bacaan.
· Menggunakan permulaan, pertengahan, dan akhir dari bunyi bacaan
(intonasi)
· Memadukan pengetahuan dalam sistem bacaan yang benar.
· Mengoreksi sendiri diantara bacaanMembaca dengan pelan tahap demi
tahap
· Membaca ulang secara oral
· Menjelaskan inti bacaan
· Menggunakan prediksi secara beralasan.
Untuk
meningkatkan kemampuan membaca siswa kelas 1, guru menerapkan strategi
memodelkan membaca (modeled reading) dengan memanfaatkan Buku Besar sebagai
media.Beberapa langkah pembelajarannya sbb:
· Guru mengajukan pertanyaan tentang gambar di cover dengan mengajak
siswa menebak isi cerita di buku besar.
· Guru membaca satu kalimat demi kalimat, siswa mengulanginya (secara
klasikal) dan anak mengulangnya sampai hapal dengan isi cerita. Semua anak
dalam satu kelas mengulang kalimat per kalimat.
· Siswa diajak menceritakan kembali apa yang dibacanya secara lisan.
Caranya siswa dibentuk berpasangan, dan perwakilan siswa menceritakan ulang di
depan kelas.
· Di dalam kerja kelompok, siswa menyusun kartu kalimat sesuai cerita
yang dibacanya bersama guru.
· Di akhir pembelajaran, semua anak diminta menceritakan ulang
melalui tulisan di kertas zigzag, dan salah satu siswa membacakan hasilnya di
depan kelas dan dipajangkan.
2.
Menulis.
· Menulis dari kiri ke kanan.
· Dapat menulis sedikit atau banyak tulisan.
· Menulis satu atau lebih kalimat.
· Menambahkan judul.
· Dapat mengeja banyak kata.
· Menulis suku kata dari komposisi kalimat.
· embiasakan penulisan huruf besar pada awal kalimat.Mengulang ucapan
saat menulis.
B.
Materi Literasi Kelas Tinggi
|
Membaca
- Berpartisipasi dalam siklus sastra.
- Berpartisipasi dalam bengkel membaca.
- Mempelajari tentang genre dan fitur teks lainnya.
- Melibatkan anak dalam menulis dan study genre.
- Memahami teks dan membedakan dengan teks
lainnya.
- Menggunakan
kecakapan siswa dalam strategi pemahaman.
- Mengapreasiasi buku-buku melalui diskusi dan
tulisan.
|
Menulis
- Berpartisipasi dalam bengkel menulis.
- Menggunakan proses menulis.
- Merevisi dan mengedit tulisan.
- Keterampilan memparagrafkan teknik pengucapan.
- Menemukan sinonim, homonim, akar kata, afiks, menggunakan
kamus, dan ensiklopedi.
|
Menyimak
·
Menyusun Bahan
Pembelajaran Kemampuan Berbahasan Lisan
·
Sesuai dengan
kompetensi dasar pembelajaran kemampuan kebahasaan lisan untuk menyimak,
kegiatan dapat didapat di padukan dengan kegiatan menulis, berbicara dan
membaca.
·
Langkah pertama menentukan
kompetensi dasar, misalnya mengapresiasikan sastra melalui kegiatan
mendengarkan hasil sastra. Selanjutnya dapat dilihat pada materi pokok yang
yaitu pembacaan cerpen anak-anak. Langkah berikut lihat indikator pencapian
hasil belajar. Berdasarkan indikator tersebut dapat ditunjukan selama proses
pembelajaran. misalnya, perilaku kegiatan mendengar, menjawab pertanyaan,
menceritakan kembali, dan membicarakan atau mendiskusikan cerita yang telah
didengar. Kegiatan tersebut melandasi untuk penyusunan tujuan pembelajaran yang
akan dicapai.
·
Pada tahap persiapan
pembelajaran ini, guru hendaknya menyiapkan materi pembelajaran. pemilihan
bahan ini mungkin biasa berupa cerita rakyat harus sesuai dengan tujuan yang
akan dicapai, tingkat kemampuan siswa, serta sesuai dengan fokus pembelajaran
menyimak, maka cerita rakyat tersebut dapat digunakan untuk kegiatan menyimak.
Dengan demikian, bahan tersebut sesuai dengan tema, subtema, dan gagasan yang
ingin di kembangkan.
·
Langkah selanjutnya
adalah merencenakan kegiatan pembelajaran. kegiatan ini lebih baik dimulai
dengan kegiatan menyimak. Kemudian apa yang dilakukan setelah menyimak ?. untuk
menyusun langkah-langkah pembelajaran guru harus memperhatikan tujuan pembelajran,
dalam hal ini apa yang telah di jadikan indikator pembelajaran. teknik apa yang
dilakukan dalam pembelajaran harus dipandu oleh tujuan atau indikator yang akan
dicapai dalam pembelajaran tersebut.
·
Langkah akhir dari
kegiatan ini adalah merencanakan evaluasi pembelajaran. evaluasi disusun
bedasarkan tujuan atau indikator yang akan dicapai dalam pembelajaran tersebut.
Evaluasinya dapat berupa tes perbuatan, tes lisan atau tes tertulis.
Resume
Pertemuan 10 dan
11
C. Jenis-Jenis Media Visual
1. Media yang tidak diproyeksikan
a. Media realia adalah benda nyata. Misal untuk mempelajari keanekaragaman
makhluk hidup, klasifikasi makhluk hidup, ekosistem, dan organ tanaman.
b. Model adalah benda tiruan dalam wujud tiga dimensi yang merupakan
representasi atau pengganti dari benda yang sesungguhnya. Misal untuk
mempelajari sistem gerak, pencernaan, pernafasan, peredaran darah, sistem
ekskresi, dan syaraf pada hewan.
c. Media grafis tergolong media visual yang menyalurkan pesan melalui
simbol-simbol visual. Fungsi dari media grafis adalah menarik perhatian,
memperjelas sajian pelajaran, dan mengilustrasikan suatu fakta atau konsep yang
mudah terlupakan jika hanya dilakukan melalui penjelasan verbal. Jenis-jenis
media grafis adalah:
1) gambar / foto: paling umum digunakan
2) sketsa: gambar sederhana atau draft kasar yang melukiskan bagian pokok
tanpa detail. Dengan sketsa dapat menarik perhatian siswa, menghindarkan
verbalisme, dan memperjelas pesan.
3) diagram / skema: gambar sederhana yang menggunakan garis dan simbol untuk
menggambarkan struktur dari obyek tertentu secara garis besar. Misal untuk
mempelajari organisasi kehidupan dari sel samapai organisme.
4) bagan / chart : menyajikan ide atau konsep yang sulit sehingga lebih mudah
dicerna siswa. Dalam bagan sering dijumpai bentuk grafis lain, seperti: gambar,
diagram, kartun, atau lambang verbal.
5) grafik: gambar sederhana yang menggunakan garis, titik, simbol verbal atau
bentuk tertentu yang menggambarkan data kuantitatif. Misal untuk mempelajari
pertumbuhan.
1. Media visual diam
Pesan yang dituangkan dalam bentuk tulisan, huruf-huruf, gambar-gambar dan
simbol yang mengandung harti disebut ”Media Grafis”. Macam-macam media grafis
adalah: gambar/foto, diagram, bagan, grafik, poster, media cetak, buku.
a. Pengertian gamba
Gambar adalah bentuk benda. Media grafis paling umum digunakan dalam PBM,
karena merupakan bahasa yang umum bagi peserta didik. Kemudahan mencerna media
grafis karena sifatnya visual konkrit menampilkan objek sesuai dengan bentuk
dan wujud aslinya sehingga tidak verbalistik. Kelebihan media ini adalah:
§ sifatnya konkrit, lebih realistik dibandingkan dengan media verbal
§ dapat memperjelas suatu masalah dalam bidang apa saja, baik untuk usia muda
maupun tua
§ harganya dan tidak memerlukan peralatan khusus dalam penyampaiannya karena
sudah nampak jelas dalam goresan itu.
Kelemahannya.
·
Gambar/foto hanya
menekankan persepsi indera mata
·
ukurannya sangat
terbatas untuk kelompok besar
b.
Diagram
Merupakan gambar yang sederhana yang menggunakan garis-garis dan
simbol-simbol, secara garis besar dan menunjukkan hubungan antar komponennya
atau proses yang ada pada diagram tersebut. Isinya pada umumnya berupa
petunjuk-petunjuk. Diagram ini untuk menyederhanakan yang komplek-komplek
sehingga dapat memperjelas penyajian pesan. Oleh karena diagram bersifat:
§
simbolis dan abstrak,
kadang-kadang sulit dimengerti
§ untuk dapat membaca diagram diperlukan keahlian khusus dalam bidangnya
tentang isi diagram tersebut
§ walaupun sulit dimengerti, karena sifatnya yang padat diagram dapat
memperjelas arti.
c. Bagan
Bagan merupakan media yang berisi tentang gambar-gambar
keterangan-keterangan, daftar-daftar dan sebagainya. Bagan digunakan untuk
memperagakan pokok-pokok isi bagan secara jelas dan sederhana antara lain:
perkembangan, perbandingan, struktur, organisasi, jenis-jenis media bagan
antara lain : Tree chart, flow chart.
2. MEDIA AUDIO
Media audio yaitu media yang berkaitan dengan indera pendengaran. Pesan
yang akan disampaikan dituangkan dalam lambang-lambang auditif, baik verbal
(kedalam kata-kata/bahasa lisan) maupun non verbal. Beberapa jenis media yang
termasuk dalam kelompok ini adalah radio dan alat perekam pita magnetik.
1. Radio
Radio merupakan perlengkapan elektronik yang dapat digunakan untuk
mendengarkan berita yang bagus dan aktual, dapat mengetahui beberapa kejadian
dan peristiwa-peristiwa penting dan baru, masalah-masalah kehidupan dan
sebagainya.
2. Perekam pita magnetik
Perekam pita magnetik adalah salah satu media pendidikan yang tak dapat
diabaikan untuk menyampaikan informasi, karena mudah menggunakannya. Ada dua
macam rekaman dalam alat perekam pita magnetik ini, yaitu sistem : “full track
recorder” dan “double track recorder”.
Kelebihan dan
Kekurangan Media Audio
o
Kelebihan Media Audio
§ Harga murah dan variasi program lebih banyak dari pada TV.
§ Sifatnya mudah untuk dipindahkan.
§ Dapat digunakan bersama-sama dengan alat perekam radio, sehingga dapat
diulang atau diputar kembali.
§ Dapat merangsang partisipasi aktif pendengaran siswa, serta dapat
mengembangkan daya imajinasi seperti menulis, menggambar dan sebagainya.
o
Kekurangan Media Audio
·
Memerlukan suatu
pemusatan pengertian pada suatu pengalaman yang tetap dan tertentu, sehingga
pengertiannya harus didapat dengan cara belajar yang khusus.
·
Media audio yang
menampilkan simbol digit dan analog dalam bentuk auditif adalah abstrak,
sehingga pada hal-hal tertentu memerlukan bantuan pengalaman visual.
·
Karena abstrak,
tingkatan pengertiannya hanya bisa dikontrol melalui tingkatan penguasaan
perbendaharaan kata-kata atau bahasa, serta susunan kalimat.
·
ini hanya akan mampu
melayani secara baik bagi mereka yang sudah mempunyai kemampuan dalam berpikir
abstrak.
·
Penampilan melalui
ungkapan perasaan atau simbol analog lainnya dalam bentuk suara harus disertai
dengan perbendaharaan pengalaman analog tersebut pada si penerima.
3. MEDIA VISUAL
Media berbasis visual (image atau perumpamaan) memegang peranan yang sangat
penting dalam proses belajar. Media visual dapat memperlancar pemahaman dan memperkuat ingatan. Visual
dapat pula menumbuhkan minat siswa dan dapat memberikan hubungan antara isi
materi pelajaran dengan dunia nyata. Agar menjadi efektif, visual sebaiknya
ditempatkan pada konteks yang bermakna dan siswa harus berinteraksi dengan
visual (image) itu untuk meyakinkan terjadinya proses informasi. Yang termasuk
dalam kelompok ini yaitu Gambar representasi, Diagram, Peta, Grafik, Overhead
Projektor (OHP), Slide, dan Filmstrip.
Kelebihan dan Kekurangan Media Visual
§ Kelebihan Media Visual
o
Analisa lebih tajam,
dapat membuat orang benar-benar mengerti isi berita dengan analisa yang lebih
mendalam dan dapat membuat orang berfikir lebih spesifik tentang isi tulisan
o
Dapat mengatasi
keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh peserta didik
o
Media visual
memungkinkan adanya interaksi antara peserta didik dengan lingkungan sekitarnya
o
Dapat menanamkan konsep
yang benar
o
Dapat membangkitkan
keinginan dan minat baru
o
Meningkatkan daya tarik
dan perhatian siswa.
§ Kekurangan Media Visual
o
Lambat dan kurang
praktis
o
Tidak adanya audio,
media visual hanya berbentuk tulisan tentu tidak dapat didengar. Sehingga
kurang mendetail materi yang disampaikan
o
Visual yang terbatas,
media ini hanya dapat memberikan visual berupa gambar yang mewakili isi berita
o
Biaya produksi cukup
mahal karena media cetak harus menyetak dan mengirimkannya sebelum dapat
dinikmati oleh masyarakat.
o
4. MEDIA AUDIO VISUAL
Media audio-visual adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur
gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik, karena meliputi
kedua jenis media auditif (mendengar) dan visual (melihat). Media Audiovisual
merupakan sebuah alat bantu audiovisual yang berarti bahan atau alat yang
dipergunakan dalam situasi belajar untuk membantu tulisan dan kata yang diucapkan
dalam menularkan pengetahuan, sikap, dan ide.
a. Jenis-jenis Media Audio Visual
1) Media Audio Visual GerakMedia audio visual gerak adalah media intruksional
modern yang sesuai dengan perkembangan zaman (kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi) karena meliputi penglihatan, pendengaran dan gerakan, serta
menampilkan unsur gambar yang bergerak. Jenis media yang termasuk dalam
kelompok ini adalah televisi, video tape, dan film bergerak
2) .Media Audio Visual Diam Media audio visual diam yaitu media yang
menampilkan suara dan gambar diam, seperti:
a) Film bingkai suara (sound slides)
Film bingkai adalah suatu film transparan (transparant) berukuran 35 mm,
yang biasanya dibungkus bingkai berukuran 2x2 inci terbuat dari kraton atau
plastik. Ada program yang selesai dalam satu menit, tapi ada pula yang hingga
satu jam atau lebih. Namun yang lazim, satu program film bingkai suara (sound
slide) lamanya berkisar antara 10-30 menit. Jumlah gambar (frame) dalam satu
program pun bervariasi, ada yang hanya sepuluh buah, tetapi ada juga yang
sampai 160 buah atau lebih.
b) Film rangkai suara
Berbeda dengan film bingkai, gambar (frame) pada film rangkai berurutan
merupakan satu kesatuan. Ukurannya sama dengan film bingkai, yaitu 35 mm.
Jumlah gambar satu rol film rangkai antara 50-75 gambar dengan panjang kurang
lebih 100 sampai dengan 130, tergantung pada isi film itu.
b. Kelebihan dan Kekurangan Media Audio visual
§ Kelebihan Media Audio Visual
o
Pemakaiannya tidak
membosankan,
o
Hasilnya lebih mudah
untuk di mengerti dan dipahami.
§ Kekurangan Media Audio Visual
o
Pelaksanaanya perlu
waktu yang cukup lama
o
Pelaksanaanya
memerlukan tempat yang luas
o
Biayanya relatif lebih
mahal
oMedia audio visual tidak dapat digunakan dimana saja dan kapan saja, karena
media audio visual cenderung tetap di
tempat
B. CONTOH MEDIA
1. Media Visual
a.
Gambar/foto.
Melalui gambar dapat mengalihkan pengalaman belajar dari taraf belajar
dengan lambang kata-kata ke taraf yang lebih kongkrit. Misalnya guru akan
menjelaskan terjadinya letusan gunung berapi, maka pembelajar akan lebih mudah
menangkap gambar daripada uraian guru. Selain dapat menggambarkan berbagai hal,
gambar mudah diperoleh dari majalah,koran, bulletin, dan lain-lain. Kalau
terpaksa tidak dapat menggambar dengan bagus guru dapat menggambar dengan sederhana,
misalnya gambar dengan bentuk-bentuk seperti tongkat/garis-garis/gambar corek.
b.
Sketsa
Sketsa adalah gambar sederhana atau draft kasar yang melukiskan bagian
pokok tanpa detail sehingga dapat menarik perhatian siswa.
c.
Ilustrasi
Ilustrasi didefinisikan sebagai gambar atau wujud yang menyertai teks.
Gambar atau tulisan tersebut merupakan suatu kesatuan yang bertujuan
memperjelas teks. Pendapat lain mengatakan bahwa ilustrasi adalah gambar atau
wujud lain yang bermaksud menerangkan, menghias, ditampilkan dengan suatu
kepribadian dan mengandung daya tarik. Dari uraian tersebut dapat ditarik
kesimpulan bahwa ilustrasi mempunyai arti menerangkan atau membuat sesuatu
menjadi lebih jelas, ilustrasi dapat berupa gambar, tulisan, ucapan, gerak
(tari), bunyi (musik).[2]
d.
Karikatur
Karikatur adalah gambar yang disederhanakan bentuknya dan biasanya berisi
sindiran. Merencanakan karikatur tidaklah mudah, karena harus memahami terlebih
dahulu objek yang akan dibuat. Jika akan membuat karikatur tentang seseorang,
yang perlu diperhatikan adalah ciri khas orang yang akan ditonjolkan. Untuk
mengungkapkanhal itu, diperlukan keterampilan-keterampilan khusus untuk
menuangkan ke dalam bentuk goresan-goresan. Gambar yang berwujud karikatur ini
dapat digunakan sebagai media komunikasi untuk semua tingkatan sosial. Bentuk
karikatur selain menarik, juga dapat meningkatkan perhatian orang, dan
memperjelas ide serta informasi yang dikemukakan
e.
Poster
Poster merupakan suatu gambar yang mengkombinasikan unsur-unsur visual
seprti garis, gmbar, dan kata-kata yang bermaksud menarik perhatian serta
mengkomunikasikan pesan secara singkat. Agar lebih efektif poster seharusnya
berwarna dan menimbulkan daya tarik dengan maksud menjangkau perhatian dan
menghubungkan pesan-pesannya dengan cepat. Dalam proses pembelajaran, poster
dapat menimbulkan perhatian siswa. Misalnya untuk mengenalkan suatu topik atau
materi baru, sebagai peringatan untuk hal-hal yang berbahaya, seperti praktikum
dengan bahan-bahan kimia, listrik dengan tegangan tinggi, dapat diberikan
melalui suatu poster.
f.
Bagan/chat
Bagan/chat menyajikan ide atau konsep yang sulit sehingga lebih mudah
dicerna siswa. Selain itu bagan mampu memberikan ringkasan butir-butir penting
dari penyajian. Dalam bagan sering dijumpai bentuk grafis lain, seperti :
gambar, diagram, kartun, atau lambang verbal.[3]
g.
Grafik
Grafik merupakan pemakaian lambang-lambang visual untuk menjelaskan data
statistic. Untuk mempermudah pengertian siswa, deretan angka-angka dapat
digambarkan dengan lambang-lambang visual seperti garis-garis, titik-titik,
gambar atau bentuk-bentuk tertentu sehingga menarik dan mudah dimengerti.
h.
Transparansi OHP
Transparansi OHP merupakan alat bantu mengajar tatap muka sejati, sebab
tata letak ruang kelas tetap seperti biasa, guru dapat bertatap muka dengan
siswa (tanpa harus membelakangi siswa). Perangkat media transparasi meliputi
perangkat lunak (Overhead transparancy/OHT) dan perangkat keras (Overhead
projector/OHP). Teknik pembuatan media transparansi, yaitu :
i. Film bingkai/slide adalah film transparan
yang umumnya berukuran 35 mm dan diberi bingkai 2x2 inci. Manfaat film bingkai
hampir sama dengan transparansi OHP, hanya kualitas visual yang dihasilkan
lebih bagus. Sedangkan kelemahannya adalah biaya produksi dan peralatan lebih
mahal serta kurang praktis. Untuk menyajikan yang dibutuhkan proyektor slide.
2. Media Audio
Setelah mempelajari pengertian media audio, karakteristik media audio,
berikut ini kami uraikan contoh-contoh media audio untuk pembelajaran.
a. Phonograph (Gramaphone)
Alat rekam ini menggunakan cakram datar yang disebut gramafon (gramaphone),
yang kemudian dikenal dengan nama piringan hitam (record). Sudah ada sejak
tahun 1948 dan berkembang di Indonesia. Piringan hitam ini, mampu merekam
berbagai macam suara mulai dari ucapan kata-kata, suara badai, kicau burung,
music simponi,dll. Cara kerja piringan hitam sama saja disemua alat pemutarnya,
dengan menggunakan stylus, yang berbentuk seperti jarum yang berada di
pinggiran piringan hitam. Stylus itu berfungsi untuk mencatat simpangan
gelombangsuara yang direkam di piringan hitam dan kemudian meneruskannya ke
alat pengeras suara. Alat ini cocok digunakan untuk music, drama, puisi,
dongeng, tutur cerita dan sebagainya Kelebihannya: piringan hitam tidak mudah
rusak dan suara yang direkam bagus. Selama platnya tidak baret-baret, sebuah
piringan hitam tidak akan bermasalah, di era modern ini piringan hitam menjadi
barang antik yang mahal. Kekurangannya: dari segi fisik, piringan hitam besar
dan agak berat, beratnya kira-kira 90-200 gram, tidak praktis untuk dibawa
kemana-mana.[7]
b. Compact Disk (CD)
Inovasi secara revolusioner di dunia audio rekam terjadi pada tahun 1979,
yakni lahirnya compact disc (CD) sebagai hasil percampuran computer dan tenaga
laser. Compact Disc atau cakram padat adalah sebuah piringan optical yang
digunakan untuk menyimpan data secara digital. Teknologi cakram padat kemudian
diadopsi untuk digunakan sebagai alat penyimpan data yang dikenal sebagai
CD-ROM
c. Radio
Radio adalah media audio yang penyampaian pesannya dilakukan melalui
pancaran gelombang elektromagnetik dari suatu pemancar. Penyiar secara langsung
dapat mengkomunikasikan pesan atau informasi melalui microfon yang kemudian
diolah dan dipancarkan ke segenap penjuru melalui gelombang elektromagnetik
tersebut.
d. Laboratorium Bahasa
Laboratorium bahasa adalah alat untuk melatih siswa mendengar dan berbicara
dalam bahasa asing dengan jalan menyajikan materi pelajaran yang disiapkan
sebelumnya. Media yang dipakai adalah alat perekam. Di laboratorium bahasa murid duduk
sendiri-sendiri di dalam kotak bilik akustik dan kotak suara. Siswa mendengar
suara guru yang duduk di ruang kontrol lewat headphone. Pada saat siswa
menirukan ucapan guru dia juga mendengar ucapannya sendiri lewat headphone,
sehingga dia bisa membandingkan ucapannya dengan ucapan guru. Dengan demikian
ia bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dibuatnya. Kelebihan media ini lebih canggih.
Kekurangannya terletak pada keterbatasan dari segi peralatan, perawatan dan
pengadaan media ini karena relatif lebih mahal. Laboratorium bahasa digunakan
tidak hanya 1 kelas saja melainkan semua siswa di sekolah, jadi harus
memerlukan perawatan extra.
3. Media Audio Visual
Dalam pembahasan ini akan dipaparkan sebagian dari
bentuk media audio visual yang dapat diklasifikasikan menjadi delapan
kelompok yaitu:
1. Media audio
visual gerak contoh, televisi, video tape, film dan media audio pada umumnaya
seperti kaset program, piringan, dan sebagainya.
2. Media audio visual diam contoh, filmastip bersuara,
slide bersuara, komik dengan suara.
3. Media audio semi gerak contoh, telewriter, mose, dan
media board.
4. Media visual gerak contoh, film bisu
5. Media visual diam contoh microfon, gambar, dan grafis,
peta globe, bagan, dan sebagainya
6. Media seni gerak
7. Media audio contoh, radio, telepon, tape, disk dan
sebagainya
Resume
Pertemuan 12, dan 13
A. Evaluasi Pembelajaran
1. Jenis evaluasi berdasarkan tujuan , dibedakan
atas lima jenis evaluasi :
a. Evaluasi diagnostik : Evaluasi diagnostik
adalah evaluasi yang di tujukan untuk menelaah kelemahan-kelemahan siswa
beserta faktor-faktor penyebabnya.
b. Evaluasi selektif : Evaluasi selektif
adalah evaluasi yang di gunakan untuk memilih siwa yang paling tepat sesuai
dengan kriteria program kegiatan tertentu
c. Evaluasi penempatan : Evaluasi penempatan adalah evaluasi yang digunakan untuk
menempatkan siswa dalam program pendidikan tertentu yang sesuai dengan
karakteristik siswa.
d. Evaluasi formatif : Evaluasi formatif Evaluasi formatif adalah evaluasi
yang dilaksanakan untuk memperbaiki dan meningkatan proses belajar dan mengajar
e. Evaluasi sumatif: Evaluasi sumatif
adalah evaluasi yang dilakukan untuk menentukan hasil dan kemajuan bekajra siswa.
2. Jenis evaluasi berdasarkan sasaran :
a. Evaluasi konteks
Evaluasi yang ditujukan untuk mengukur konteks program baik mengenai
rasional tujuan, latar belakang program, maupun kebutuhan-kebutuhan yang muncul
dalam perencanaan
b. Evaluasi input: Evaluasi yang diarahkan untuk mengetahui input baik sumber
daya maupun strategi yang digunakan untuk mencapai tujuan.
c. Evaluasi proses : Evaluasi yang di tujukan untuk melihat proses
pelaksanaan, baik mengenai kalancaran proses, kesesuaian dengan rencana, faktor
pendukung dan faktor hambatan yang muncul dalam proses pelaksanaan, dan
sejenisnya.
d. Evaluasi hasil atau produk : Evaluasi
yang diarahkan untuk melihat hasil program yang dicapai sebagai dasar untuk
menentukan keputusan akhir, diperbaiki, dimodifikasi, ditingkatkan atau
dihentikan.
e. Evaluasi outcom atau lulusan: Evaluasi yang diarahkan untuk melihat hasil
belajar siswa lebih lanjut, yankni evaluasi lulusan setelah terjun ke
masyarakat.
3. Jenis evalusi berdasarkan lingkup kegiatan pembelajaran :
a. Evaluasi program pembelajaran: Evaluais yang mencakup terhadap tujuan
pembelajaran, isi program pembelajaran, strategi belajar mengajar, aspe-aspek
program pembelajaran yang lain.
b. Evaluasi proses pembelajaran: Evaluasi yang mencakup kesesuaian antara
peoses pembelajaran dengan garis-garis besar program pembelajaran yang di
tetapkan, kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran, kemampuan
siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Evaluasi hasil pembelajaran
c. Evaluasi hasil belajar mencakup tingkat penguasaan siswa terhadap tujuan
pembelajaran yang ditetapkan, baik umum maupu khusus, ditinjau dalam aspek kognitif,
afektif, psikomotorik.
Resume
Pertemuan 14,
dan 15
A. Pembelajaran Kontekstual (CTL)
Pendekatan Pembelajaran Kontekstual/Contextual
Teaching Learning adalah mempraktikkan konsep belajar yang mengaitkan materi
yang dipelajari dengan situasi dunia nyata siswa. Siswa secara bersama-sama
membentuk suatu sistem yang memungkinkan mereka melihat makna di dalamnya.
Pembelajaran Kontekstual atau Contextual Teaching
Learning (CTL) mengasumsikan bahwa secara natural pikiran mencari makna konteks
sesuai dengan situasi nyata lingkungan seseorang melalui pencarian hubungan
masuk akal dan bermanfaat. Melalui pemaduan materi yang dipelajari dengan
pengalaman keseharian siswa akan menghasilkan dasar-dasar pengetahuan yang
mendalam. Siswa akan mampu menggunakan pengetahuannya untuk menyelesaikan
masalah-masalah baru dan belum pernah dihadapinya dengan peningkatan pengalaman
dan pengetahuannya. Siswa diharapkan dapat membangun pengetahuannya yang akan
diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan memadukan materi pelajaran yang
telah diterimanya di sekolah.
Pembelajaran Kontekstual merupakan satu konsepsi
pengajaran dan pembelajaran yang membantu guru mengaitkan bahan subjek yang
dipelajari dengan situasi dunia sebenarnya dan memotivasikan pembelajar untuk
membuat kaitan antara pengetahuan dan aplikasinya dalam kehidupan harian mereka
sebagai ahli keluarga, warga masyarakat, dan pekerja.
Pembelajaran Kontekstual adalah sebuah sistem belajar
yang didasarkan pada filosofi bahwa siswa mampu menyerap pelajaran apabila
mereka menangkap makna dalam materi akademis yang mereka terima, dan mereka
menangkap makna dalam tugas-tugas sekolah jika mereka bisa mengaitkan informasi
baru dengan pengetahuan dan pengalaman yang sudah mereka miliki sebelumnya
(Elaine B. Johnson, 2007:14).
Dalam Pembelajaran Kontekstual, ada delapan komponen yang harus ditempuh,
yaitu: (1) Membuat keterkaitan-keterkaitan yang bermakna, (2) melakukan pekerjaan
yang berarti, (3) melakukan pembelajaran yang diatur sendiri, (4) bekerja sama,
(5) berpikir kritis dan kreatif, (6) membantu individu untuk tumbuh dan
berkembang, (7) mencapai standar yang tinggi, dan (8) menggunakan penilaian
otentik (Elaine B. Johnson, 2007: 65-66)
Berdasarkan pengertian di atas dapat dijelaskan bahwa
Pembelajaran Kontekstual adalah mempraktikkan konsep belajar yang mengaitkan
materi yang dipelajari dengan situasi dunia nyata siswa. Siswa secara
bersama-sama membentuk suatu sistem yang memungkinkan mereka melihat makna di
dalamnya.
Pembelajaran Kontekstual merupakan konsep belajar yang
membantu para guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi
nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang
dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga
dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran berlangsung alamiah dalam
bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari
guru kepada siswa. Proses pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil.
Pembelajaran Kontekstual adalah suatu strategi
pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh
untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi
kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam
kehidupan meraka (Sanjaya, 2005:109).
B. Model Pembelajaran Kuantum (Quantum Learning)
Pembelajaran kuantum merupakan terjemahan dari bahasa asing yaitu quantum
learning. “Quantum Learning adalah kiat,
petunjuk, strategi dan seluruh proses belajar yan1g dapat mempertajam pemahaman
dan daya ingat, serta membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan
dan bermanfaat” (Bobbi DePorter & Mike Hernacki, 2011:16 ).
Dengan demikian, pembelajaran kuantum dapat dikatakan
sebagai model pembelajaran yang menekankan untuk memberikan manfaat yang
bermakna dan juga menekankan pada tingkat kesenangan dari peserta didik atau
siswa.
Selanjutnya, Bobbi DePorter & Mike Hernacki
(2011:30) mengungkapkan mengenai karakterisitik dari pembelajaran kuantum
(quantum learning) yaitu sebagai berikut. Pembelajaran kuantum berpangkal pada
psikologi kognitif, bukan fisika kuantum meskipun serba sedikit istilah dan
konsep kuantum dipakai. Pembelajaran kuantum lebih bersifat humanistis, bukan
positivistis-empiris, “hewan-istis”, dan atau nativistis. Pembelajaran kuantum
lebih bersifat konstruktivis(tis), bukan positivistis-empiris, behavioristis,
dan atau maturasionistis.
Pembelajaran kuantum berupaya memadukan
(mengintegrasikan), menyinergikan, dan mengkolaborasikan faktor potensi diri
manusia selaku pembelajar dengan lingkungan (fisik dan mental) sebagai konteks
pembelajaran. Pembelajaran kuantum memusatkan perhatian pada interaksi yang
bermutu dan bermakna, bukan sekadar transaksi makna. Pembelajaran kuantum
sangat menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan
tinggi.
Pembelajaran kuantum sangat menekankan kealamiahan dan
kewajaran proses pembelajaran, bukan keartifisialan atau keadaan yang
dibuat-buat. Pembelajaran kuantum sangat menekankan kebermaknaan dan
kebermutuan proses pembelajaran. Pembelajaran kuantum memiliki model yang
memadukan konteks dan isi pembelajaran. Konteks pembelajaran meliputi suasana
yang memberdayakan, landasan yang kukuh, lingkungan yang menggairahkan atau
mendukung, dan rancangan belajar yang dinamis. Pembelajaran kuantum memusatkan
perhatian pada pembentukan keterampilan akademis, keterampilan (dalam) hidup,
dan prestasi fisikal atau material. Pembelajaran kuantum menempatkan nilai dan
keyakinan sebagai bagian penting proses pembelajaran. Pembelajaran kuantum
mengutamakan keberagaman dan kebebasan, bukan keseragaman dan ketertiban. Pembelajaran
kuantum mengintegrasikan totalitas tubuh dan pikiran dalam proses pembelajaran.
Menurut Bobbi DePorter & Mike Hernacki (2011:12)
adapun tujuan dari pembelajaran kuantum (quantum learning) adalah sebagai
berikut.
1. Untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif.
2. Untuk menciptakan proses belajar yang menyenangkan.
3. Untuk menyesuaikan kemampuan otak dengan apa yang dibutuhkan oleh otak.
4. Untuk membantu meningkatkan keberhasilan hidup dan karir.
5. Untuk membantu mempercepat dalam pembelajaran
Tujuan di atas, mengindikasikan bahwa pembelajaran
kuantum mengharapkan perubahan dari berbagai bidang mulai dari lingkungan
belajar yaitu kelas, materi pembelajaran yang menyenangkan, menyeimbangkan
kemampuan otak kiri dan otak kanan, serta mengefisienkan waktu
pembelajaran.Menurut Kompasiana (2010) Lingkungan belajar dalam pembelajaran kuantum
terdiri dari lingkungan mikro dan lingkungan makro. Lingkungan mikro adalah
tempat siswa melakukan proses belajar, bekerja, dan berkreasi. Lebih khusus
lagi perhatian pada penataan meja, kursi, dan belajar yang teratur. Lingkungan
makro yaitu dunia luas, artinya siswa diminta untuk menciptakan kondisi ruang
belajar di masyarakat. Mereka diminta berinteraksi sosial ke lingkungan
masyarakat yang diminatinya, sehingga kelak dapat berhubungan secara aktif
dengan masyarakat. Selain itu, Bobbi DePorter,et al., (2004:14) menyatakan
mengenai lingkungan dalam konteks panggung belajar. “Lingkungan yaitu cara guru
dalam menata ruang kelas, pencahayaan warna, pengaturan meja dan kursi,
tanaman, musik, dan semua hal yang mendukung proses belajar”.
Jadi, dapat dikatakan bahwa pembelajaran kuantum
sangat memperhatikan pengkondisian suatu kelas sebagai lingkungan belajar dari
peserta didik mengingat model pembelajaran kuantum merupakan adaptasi dari
model pembelajaran yang diterapkan di luar negeri.
C. Kooperatif
Metode Pembelajaran Kooperatif merupakan metode pembelajaran dengan
kelompok kecil siswa dan membangun kondisi belajar yang kondusif.
1. Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Adapun tujuan metode pembelajaran kooperatif ini, yaitu: Untuk meningkatkan
hasil belajar akademik Meskipun banyak tujuan lainnya dalam metode pembelajaran
kooperatif, namun tujuan utamanya adalah untuk membuat proses belajar efektif
dan efisien shingga meningkatkan hasil akademik siswa.
a. Mengajarkan siswa untuk menerima perbedaan dan keragaman
Pembelajaran kooperatif
melatih siswa untuk memberikan pendapat dan berfikir bersama sehingga
memunculkan keragaman pendapat yang kemudian harus disimpulkan untuk satu
tujuan bersama. Dengan demikian ada ketergantungan antara siswa satu dengan
yang lain.
b. Mengembangkan ketrampilan sosial
Pembelajaran kooperatif
melibatkan interaksi antar siswa sehingga meningkatkan kemampuan bersosial.
2. Konsep Dasar Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif merupakan proses pembelajaran dengan mengembangkan
interaksi siswa antara satu dengan yang lain sehingga terbentuk rasa
pengertian, pemahaman satu sama lain. Hal ini juga menghindari adanya
perselisihan, permusuhan, dan juga latihan bersosialisasi.
Ciri Ciri Pembelajaran Kooperatif Menurut Lie, 2004 terdapat elemen elemen
di dalam pembelajaran kooperatif, yaitu:
a. Saling ketergantungan positif
Dalam metode
pembelajaran kooperatif, guru bertugas untuk mendorong siswa untuk saling
berinteraksi dan muncul rasa saling membutuhkan yang juga ketergantungan
positif. Misalnya saling ketergantungan untuk membantu mengerjakan tugas.
b. Akuntabilitas individual
Metode pembelajaran
kooperatif ditujukan juga untuk mengetahui kemampuan siswa secara individual
terhadap penyerapan materi. Hasil penilaian kemudian disampaikan oleh guru kepada
seluruh anggota kelompok, agar kelompok mengetahui siapa yang membutuhkan
bantuan dalam belajar. Nilai yang diambil adalah nilai kelompok yang dirata-
rata keseluruhan. Jadi, nilai rata- rata dari kelompok itulah nantinya yang
menjadi patokan penguasaan siswa secara individu.
c. Interaksi tatap muka
Dengan metode ini,
siswa dapat bertatap muka dan berinteraksi langsung. Hal ini akan lebih banyak
membantu ketika diskusi.
d. Ketrampilan menjalin hubungan
Metode ini juga
menjalin hubungan antar siswa dengan baik, melatih kekompakan sesama teman
sekelas. Guru bisa menegur apabila ada siswa yang tidak dapat menyatu oleh
kelompoknya.
D. PEMBELAJARAN BERBASIS MULTIPLE INTELLIGENCE
Pendidikan adalah sebuah proses memberikan lingkungan
agar peserta didik dapat berinteraksi dengan lingkungan untuk mengembangkan
kemampuan yang ada pada dirinya. Kemampuan tersebut dapat berupa kemampuan
kognitif yakni mengasah pengetahuan, kemampuan afektif mengasah kepekaan
perasaan, dan kemampuan psikomotorik yakni keterampilan melakukan sesuatu.
Dengan tiga kemampuan ini menurut Binyamin S.Bloom (1956) seorang peserta didik
diharapkan dapat dilepas menjadi individu yang siap memasuki dunia di luar
sekolah. Akan tetapi kenyataan yang terjadi kini, kemampuan seseorang di luar
sekolah sangat kompleks. Kemampuan kemampuan tersebut disamping kemampuan yang
ada pada dirinya secara internal juga kemampuan yang ada di luar dirinya secara
eksternal. Sebagai contoh kemampuan seorang individu untuk melakukan kerjasama
dengan orang lain berpartisipasi dalam satu kelompok kini menjadi bagian
penting bila individu ingin sukses meraih apa yang ia inginkan. Ini artinya
bahwa kemampuan kemampuan yang dibatasi selama ini sudah saatnya dirubah dan
dikembangkan sesuai dengan tuntutan dunia luar sekolah.
Dalam hal mengakomodir
berbagai kemampuan pada seorang peserta didik, kemampuan ganda atau multiple
intelligence adalah satu bagian penting yang harus diperkenalkan. Artinya
peserta didik sejak dini sudah harus diberi wawasan, kegiatan, orientasi yang
merupakan bentuk lingkungan agar mereka dapat mengembangkan diri sesuai dengan
nilai nilai yang ada di luar sekolah. Ini maksudnya adalah memperkenalkan
mutiple intelligence dalam kegiatan pembelajaran harus dilakukan, dan tentunya
memerlukan satu pembahasan yang baik.
Pembahasan dimaksudkan untuk memberikan satu penjelasan, dimana multiple
intelligence adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan
pembelajaran siswa di kelas, di luar kelas yang secara keseluruhan adalah
bagian dari tanggungjawab guru.
1. Teori Teori Intelligence
Inteligensi terkait erat dengan tingkat kemampuan seseorang menyesuaikan
diri dengan lingkungannya, baik itu kemampuan secara fisik maupun non fisik.
Banyak hal yang telah diteliti orang tentang kemampuan ini, sehingga melahirkan
rumus tetang bagaimana mengukur tingkat inteligensi seseorang. Uraian tentang
inteligensi akan dijabarkan dalam dua pokok bahasan yakni; pengertian
intelegensi dan tingkahlaku inteligensi.
a. Arti Intelgensi
Banyak defenisi yang dikemukakan para ahli tentang inteligensi, kadangkala
pengertian pengertian yang mereka bangun berdasarkan hasil penelitian atau
pendekatan yang dilakukan. Menurut William Stern inteligensi adalah kesanggupan
untuk menyesuaikan diri kepada kebutuhan baru dengan menggunakan alat alat berfikir
yang sesuai dengan tujuan. (Agus Sujanto;1986,66).
Sementara itu penelitian yang berkenaan dengan
inteligensi dilakukan oleh para ahli selalu dikaitkan dengan masalah masalah
konsep tentang berbagai hal yang menyangkut perilaku kemampuan berfikir seseorang.
Banyaknya lahir konsep tentang inteligensi ini digolongkan menjadi lima
golongan yakni:
a. Konsepsi konsepsi yang bersifat spekulatif
b. Konsepsi konsepsi yang bersifat pragmatis
c. Konsepsi konsepsi yang didasarkan atas analisis faktor yang kiranya dapat kita
sebut konsepsi konsepsi faktor
d. Konsepsi konsepsi yang bersifat operasional, dan
e. Konsepsi konsepsi yang didasarkan atas analisis fungsional, yang kiranya
dapat kita sebut konsepsi fungsional. (Sumadi Suyabrata:1989,128)
Dalam pada itu konsepsi tentang inteligensi ini berkembang terus sehingga
banyak mendapat dan dalili dalil yang menjadi temuan dan pedoman bagi para ahli
untuk mengembangkannya lebih jauh.
Gardner’s theory found rapid acceptance among educators because it suggests
a wider goal than traditional education has adopted. Critics of the multiple
intelligences theory have several objections. First, they argue that Gardner
based his ideas more on reasoning and intuition than on empirical studies. They
note that there are no tests available to identify or measure the specific
intelligences and that the theory largely ignores decades of research that show
a tendency for different abilities to correlate—evidence of a general
intelligence factor. In addition, critics argue that some of the intelligences
Gardner identified, such as musical intelligence and bodily-kinesthetic
intelligence, should be regarded simply as talents because they are not usually
required to adapt to life demands. © 1993-2003 Microsoft Corporation. All
rights reserved
Kutipan di atas, cukup memberikan informasi bahwa
berbagai teori tentang pengukuran inteligensi selama ini banyak memiliki
kelemahan disatu sisi, sementara anatomi manusia semakin kompleks. Dibutuhkan
berbagai pendekatan untuk melihat dasar kemampuan, bakat dan kemauan serta
stabilitas seseorang, untuk itulah Gadner mencoba memberikan tawaran bagaimana
pengukuran kemampuan manusia secara lebih lengkap.
Gardner yang terkenal dengan multiple intelligence
tidak memandang kecerdasan manusia sema berdasar secor tes standar, tetapi
meliputi tujuh macam kecerdasan manusia yaitu: (1) Linguistik intelligence
(kecerdasan lnguistik); (2) Logical-mathematical intelligence (kecerdasan
logika-matematika); (3) Spatial intelligence (kecerdasan spasial berpikir dalam
tiga dimensi); (4) Bodily-kinesthetic intelligence (kecerdasan
kinestetik-tubuh); (5) Musical intelligence (kecerdasan musik); (6)
Interpersonal intelligence (kecerdasan interpersonal); dan (7) Intrapersonal
intelligence (kecerdasan intrapersonal) (Campbell, Campbell dan Dickinson,
2002,2-3). Pemikiran Gardner tentang multiple intelligence mengenai kecerdasan
inerpersonal di atas ditempatkan oleh Salovey dalam definisi dasar tentang
kecerdasan emosional. (Goleman, 2001,57-59). Ketujuh kecerdasan ini, kini
banyak dikembangkan baik dalam pendidikan maupun pelatihan, serta pengembangan
sumber daya manusia. Bagaimana sebenarnya pengembangan ketujuh kecerdasan
terkait dengan pilihan profesi yang dapat diberikan pada kegiatan pembelajaran,
hal ini dapat dilihat sebagaimana uraian tabel berikut dibawah ini.
E. Program Individu
1. AKSELERASI
Program percepatan belajar (akselerasi) adalah program layanan pendidikan
khusus bagi peserta didik yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa
dengan penyelesaian waktu belajar lebih cepat/ lebih awal dari waktu yang telah
ditentukan, pada setiap jenjang pendidikan. Tujuan Program Akselerasi
Ada beberapa tujuan yang menjadi pertimbangan dalam penyelenggaraan program
akselerasi adalah:
a. Memenuhi kebutuhan peserta didik yang memiliki karakteristik spesifik dari
segi perkembangan kognitif dan afektifnya.
b. Memenuhi hak asasi peserta didik
c. Memenuhi minat intelektual dan perspektif masa depan peserta didik
d. Memenuhi aktualisasi diri
e. Menyiapkan peserta didik sebagai pemimpin yang mampu mengambil keputusan
yang cepat.
f. Memberikan penghargaan untuk dapat menyelesaikan program pendidikan lebih
cepat.
g. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses pembelajaran
h. Mencegah rasa bosan terhadap iklim kelas yang kurang kondusif.
i. Meningkatkan kecerdasan spiritual, intelektual dan emosional secara
seimbang.
Perencanaan penyelenggaraan program percepatan belajar
(akselerasi) diawali dengan
kegiatan rekruitmen siswa
sesuai dengan kriteria
yang ditetapkan. Undang-undang Dasar 1945 pasal 31 ayat (1)
menyatakan bahwa tiap-tiap
warga Negara berhak mendapat
pengajaran, ayat (2) pemerintah menggunakan satu sistem pengajaran nasional
yang diatur dengan undang-undang. Ini berarti bahwa pada prinsipnya seluruh
warga negara Indonesia berhak untuk menjadi siswa akselerasi. Namun karena
tujuan diselenggarakannya program percepatan belajar (akselerasi) ini untuk
memberikan perlakuan dan pelayanan pendidikan kepada siswa yang memiliki kemampuan
dan kecerdasan luar biasa,
agar dapat mengembangkan
bakat, minat, dan kemampuannya secara optimal, maka calon siswa program
akselerasi memiliki persyaratan-persyaratan khusus yang berbeda dengan
siswa biasa. Persyaratan tersebut dapat diidentifikasi
berdasarkan ciriciri keberbakatan, Renzuli (1981) menyatakan ada tiga kelompok
ciri keberbakatan, yaitu:
1) kemampuan umum yang tergolong di atas rata-rata (above average ability)
2) kreativitas (creativity) tergolong tinggi
3) pengikatan diri terhadap tugas (task commitment) tergolong tinggi
Yaumil (1991) menjelaskan konsep Renzuli sebagai
berikut: (1) Kemampuan umum di atas rata-rata merujuk pada kenyataan antara
lain bahwa anak berbakat memiliki perbendaharaan kata-kata yang lebih banyak
dan lebih maju dibandingkan anak biasa; cepat menangkap hubungan
sebab akibat; cepat memahami prinsip dasar dari suatu
konsep; seorang pengamat yang tekun dan waspada; mengingat dengan tepat serta
memiliki informasi aktual; selalu bertanya-tanya; cepat sampai pada kesimpulan
yang valid mengenai kejadian, fakta, orang atau benda. (2) Ciri-ciri
kreativitas antara lain: menunjukkan rasa ingin tahu yang luar biasa;
menciptakan berbagai ragam dan jumlah gagasan guna memecahkan persoalan;
sering mengajukan tanggapan yang
unik dan pintar; tidak terhambat
mengemukakan pendapat; berani mengambil resiko; suka mencoba;
elaboratif; peka terhadap
keindahan dan segi-segi estetika dari lingkungannya. (3)
Pengikatan diri terhadap tugas sering dikaitkan dengan motivasi instrinsik
untuk berprestasi, ciri-cirinya mudah terbenam dan benar-benar terlibat dalam
suatu tugas; sangat tangguh dan ulet
menyelesaikan masalah; bosan
menghadapi tugas rutin;
mendambakan dan mengejar hasil
sempurna; lebih suka bekerja secara mandiri; sangat terikat pada nilai-nilai
baik dan menjauhi nilai-nilai buruk; bertanggung jawab,
berdisiplin; sulit mengubah pendapat yang telah diyakininya.
a. Kurikulum Siswa Akselerasi
Kurikulum siswa akselerasi
adalah melaksanakan kurikulum nasional 2004 dan kurikulum lokal,
dengan penekanan pada materi esensial serta kekhasan yang
efektif dan fungsional membawa misi dan visi siswa akselerasi, dengan mengacu pada
tujuan-tujuan keunggulan. Ward (dikutip Munandar, 1992) menyatakan bahwa untuk
melayani kebutuhan pendidikan anak berbakat perlu diusahakan suatu kurikulum
pendidikan yang berdiferensiasi, yaitu yang memberi pengalaman pendidikan yang
disesuaikan dengan minat dan kemampuan intelektual siswa. Dalam
kaitan ini Semiawan (1992)
menjelaskan bahwa kurikulum
berdiferensiasi merupakan kerangka berpikir konsepsional
dalam memberikanpelayanan secara
khusus kepada anak
berbakat unggul atau juga memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa
maupun bakat istimewa. Pengembangan kurikulum berdiferensiasi adalah
bagian integral dari lingkungan belajar total anak berbakat
yang tidak boleh dilihat
terlepas dari kelompok anak lainnya, namun kemungkinan
diferensiasi pada berbagai tingkat kreativitas, mencakup integrasi
dari kondisi empat
ranah, yaitu kognitif, afektif, psikomotor dan intuitif. Keberbakatan
adalah perkembangan optimal dari kreativitas. Pengembangan kurikulum program
akselerasi, harus memusatkan dan mengkoordinasikan ide dan masalah serta tema
yang lebih luas, rumit dan mendalam. Selain itu, juga mengintegrasikan ilmu
pengetahuan secara melintang dengan sistem pemikiran, namun tidak terlepas
dari kurikulum yang berlaku. Ini berarti, materi harus digali
dari berbagai sumber untuk memberikan kedalaman dan keasyikan dalam
penelaahannya. Hal ini dapat memberikan gairah untuk menjelajahi ilmu
pengetahuan itu dan kemungkinan untuk menghayati getaran penemuan dalam
pengalaman belajar, memacu kepada cita-cita yang lebih tinggi. Sementara Pusat
Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan Balitbang Depdiknas (2004)
menjelaskan isi program pengajaran untuk siswa yang memiliki kemampuan dan
kecerdasan luar biasa lebih meningkatkan kemampuan siswa dalam bentuk pendalaman dan
perluasan konsep-konsep, pengertian serta nilai/perilaku tertentu,
sebagai anggota masyarakat dalam
mengadakan hubungan timbal balik
dengan lingkungan sosial, budaya,
dan alam sekitar
serta meningkatkan semaksimal
mungkin pengetahuan, kemampuan
dan minat siswa dalam memilih program khusus sesuai dengan kemampuan, bakat dan
minat yang dimilikinya.
b. Sistem Proses Belajar Mengajar Siswa Akselerasi
Pengembangan sistem
proses belajar mengajar siswa
akselerasi, diarahkan pada terwujudnya proses
belajar tuntas dengan memperhatikan keselarasan dan
keseimbangan antara: Depdiknas (2004) (1)dimensi tujuan pembelajaran,
(2) pengembangan kreativitas dan
disiplin, (3) pengembangan persaingan dan kerja sama, (4)
pengembangan kemampuan holistik
dan kemampuan berpikir otomistik,
(5) pelatihan berpikir induktif deduktif dan tuntutan prakarsa.
Keseimbangan-keseimbangan ini sangat diperlukan dalam rangka pembekalan
pengetahuan, sikap dan keterampilan yang memungkinkan peserta didik berperilaku
fleksibel, mempunyai ketegasan, penuh keterbukaan, berorientasi ke masa depan,
percaya kepada diri sendiri, berinisiatif, penuh toleransi terhadap
ketidakpastian, disiplin berani mengambil
resiko dan bertanggung
jawab serta berorientasi pada
penyelesaian tugas. Moelyadi (2000) menjelaskan
bahwa dalam proses belajar mengajar ada tiga kegiatan pokok yakni (1)
kegiatan melalui tatap muka yang terikat
oleh struktur program kurikulum, (2) belajar mandiri untuk
memperdalam materi yang dipelajari lewat tatap muka secara
mandiri, (3) kegiatan
ekstra kurikuler, untuk memperluas wawasan mengenai materi yang
diperoleh melalui kegiatan tatap muka dengan penugasan terstruktur.
Munandar (1992) menyoroti
masalah sistem belajar mengajar anak berbakat (termasuk siswa akselerasi) lebih diarahkan
kepada proses belajar
kreatif dengan menggunakan proses
berpikir divergen (proses
berpikir ke macam-macam arah dan menghasilkan banyak alternatif penyelesaian)
maupun proses berpikir konvergen (proses berpikir
mencari jawaban tunggal yang paling tepat). Dalam konteks
ini, lebih jauh Munandar (1992) menjelaskan bahwa guru lebih banyak berperan
sebagai fasilitator daripada pengarah yang menentukan segala-galanya bagi
siswa. Sebagai fasilitator guru lebih banyak mendorong siswa (motivator) untuk
mengembangkan inisiatif dalam menjajagi tugas-tugas baru. Guru harus lebih
terbuka menerima gagasan-gagasan siswa dan lebih berusaha menghilangkan
ketakutan dan kecemasan siswa yang menghambat pemikiran dan pemecahan masalah
secara kreatif.
c. Sistem Evaluasi Pengajaran Akselerasi
Evaluasi kegiatan dan
kemajuan belajar pada hakikatnya adalah upaya mengumpulkan informasi tentang
kemajuan siswa. Evaluasi pada siswa
akselerasi tidak hanya bertujuan untukmengetahui kemajuan belajar siswa dalam
rangka keperluan perbaikan dan peningkatan kegiatan belajar siswa, melainkan
juga untuk memperoleh umpan balik dan masukan bagi perbaikan pelaksanaan
kegiatan proses belajar mengajar dan perkembangan emosi siswa. Sedangkan teknik
evaluasi pada dasarnya
sama dengan siswa
reguler hanya penekanannya pada pengukuran pola berpikir
kritis dan sistematis serta penggalian kemampuan nalar
sebagai perwujudan berpikir tingkat tinggi. Evaluasi seperti ini
dilaksanakan dengan cara
memberikan soal-soal ulangan harian
ataupun ulangan umum dalam bentuk uraian/essai dengan pola
jawaban divergen (terbuka) serta latihan penelitian sederhana dan presentasi hasil
penelitian.
3. Program PAKEM
PAKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan
Menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus
menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya,
mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Belajar memang merupakan suatu proses
aktif dari si pembelajar dalam membangun pengetahuannya, bukan proses pasif
yang hanya menerima kucuran ceramah guru tentang pengetahuan. Sehingga, jika
pembelajaran tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif,
maka pembelajaran tersebut bertentangan dengan hakikat belajar. Peran aktif
dari siswa sangat penting dalam rangka pembentukan generasi yang kreatif, yang
mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan orang lain.
Kreatif juga dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang
beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa. Menyenangkan adalah
suasana belajar-mengajar yang menyenangkan sehingga siswa memusatkan
perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya
tinggi. Menurut hasil penelitian, tingginya waktu curah terbukti meningkatkan
hasil belajar. Keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah cukup jika proses
pembelajaran tidak efektif, yaitu tidak menghasilkan apa yang harus dikuasai
siswa setelah proses pembelajaran berlangsung, sebab pembelajaran memiliki
sejumlah tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Jika pembelajaran hanya aktif
dan menyenangkan tetapi tidak efektif, maka pembelajaran tersebut tak ubahnya
seperti bermain biasa. Secara garis besar, gambaran PAKEM adalah sebagai
berikut:
a. Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan
kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat.
b. Guru menggunakan berbagai alat bantu dan cara membangkitkan semangat,
termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan
pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa.
c. Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih
menarik dan menyediakan ‘pojok baca’
d. Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif,
termasuk cara belajar kelompok.
e. Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu
masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkam siswa dalam menciptakan
lingkungan sekolahnya.